Setelah Matahari Terbenam

(Kelimabelas)

Lepas petang seusai shalat magrib, saya meninggalkan Dewi bersama dengan perawat dan dokter yang berjaga di tempat dan kembali menemui bapak.

Sepanjang jalan saya merenungi  arti kehidupan kedua yang diberikan oleh Allah pada kami yang selamat dari bencana ini. Dua hari ini saya telah melihat bahwa kehidupan dan kematian dipisahkan oleh sebuah jarak yang amat tipis.

Saya melihat bapak dari jauh, duduk menyendiri di salah satu puing reruntuhan rumah. Bapak juga pasti sangat sedih. Rumah ini dibangun dari nol. Ia bekerja mengumpulkan uang lalu membangunnya agar ibu dan saya bisa tinggal dengan nyaman. Sebagai seorang pegawai biasa, tidak mudah mengumpulkan uang banyak untuk membangun rumah yang layak. Bapak dan ibu saling bahu membahu untuk mewujudkan  impian itu. Ibu pernah bisnis kecil kecilan membuat kue penganan tradisional dan bapak membantu menjajakan di kantornya kemudian berhenti karena mulai sakit sakitan. Bapak akhirnya meminjam uang di bank untuk membangun rumah dan akhirnya selesai terbangun. Banyak kenangan yang ikut roboh bersama dengan rumah itu.

‘Bapak sudah makan?’

Saya menegur bapak yang termenung dan tidak menyadari kehadiranku.

‘Cuma makan biskuit, nak. Tadi bapak singgah di kios, yang ada hanya biskuit dan air mineral.’

‘Saya punya mie instan, pak. Bapak mau ya, saya buatkan’.

Bapak mengangguk dan tersenyum.

Malam itu kami makan malam bersama di dekat puing reruntuhan rumah.

Meskipun menunya sederhana, makanan jadi enak ya. Ujar bapak berkelakar.

‘Iya, pak. mungkin karena terlalu lapar. Atau juga mungkin karena kita makan sama-sama’.

Kami terus berbincang sambil menikmati mie instan sebagai menu makan malam. Saya tak lupa bercerita tentang Dewi yang telah keluar dari posko medis, kemudian berlanjut pada pencarian mamanya lalu ia drop dan kembali dirawat.

Sebuah hari yang panjang dan melelahkan. Bapak melengus menarik nafas panjang dan membuangnya.

‘Pak, bagaimana rencana kita selanjutnya?’

‘Saya belum tahu, nak. Situasi saat ini benar benar sulit’

Tenda darurat tidak mampu menampung kami lagi sehingga diprioritaskan untuk anak-anak dan ibu hamil. Saya dan bapak pergi menuju mesjid kompleks dan berniat tidur disana malam ini.

Kubonceng bapak, dan ia memelukku dari belakang. Rasanya telah lama sekali kekaraban seperti ini hilang.

Dulu waktu kecil, saya begitu dekat dengan bapak, sehingga terkadang ibu cemburu. Lalu ibu menggelitikku sampai air mataku keluar karena tertawa keras. Kenangan ini sekali lagi membuatku menangis.

Saya menyiapkan tempat tidur seadanya buat bapak. Pakaian shalat yang selalu ada di dalam tas kukeluarkan. Saya berikan sarungnya untuk bapak agar tidak terlalu kedinginan. Bantal kubuat dari sajadah lusuh yang kugulung menjadi buntalan lumayan mengganjal kepala. Bapak pun terbaring dan saya ikut baring tidak jauh.

‘Bapak, saya belum mengucapkan terima kasih’

‘Untuk apa, nak?’

‘Untuk segala hal yang telah bapak lakukan selama ini buatku dan ibu’

‘Itu kan memang tugas bapak, nak. Tak perlu berterima kasih. Selama ini juga kamu telah menjadi anak yang sangat baik. Tak ada yang lebih dari itu’.

Saya tersenyum tapi juga menangis dalam waktu yang bersamaan.

Malam itu kami tertidur di teras mesjid beralaskan karpet mesjid, berbantalkan sajadah lusuh, dan bapak mengenakan sarung shalatku. Kami ikhlas atas apa yang terjadi.

Tetima kasih Tuhan. Selalu ada alasan tersenyum seberat apapun hidup.

 

 

Iklan

Setelah Matahari Terbenam

(Keempatbelas)

Dewi tak berhenti menangis sehingga kondisinya menjadi drop kembali. Dibantu oleh beberapa orang saya membawa Dewi ke posko medis yang terletak di sekitar lokasi rumah sakit umum. Beruntung kompleks perumahan balaroa tidak jauh dari rumah sakit sehingga kami tidak terlalu kerepotan membawanya.

‘Wi, kamu harus kuat, ya!’

Saya menggenggam tangannya dan memberinya semangat.

‘Kita akan melewati ini bersama-sama’

‘Iya, Ra. Saya akan menguatkan diri meskipun hati ini terasa begitu perih’.

Air matanya terus menetes. Kupeluk dia, air mataku ikut mengalir.

‘Jalan hidup telah digariskan oleh Allah seperti ini. Tugas kita adalah menjalaninya dengan ikhlas. Berat memang, tapi saya yakin setiap badai akan berlalu’.

Saya menyeka air mataku lalu menguatkan diri.

‘Kamu disini ya, Wi. Saya akan kembali ke Balaroa untuk mencari informasi tentang mama’.

Saya memeluknya lalu berlalu dengan cepat. Saya tak ingin terlihat lemah di mata Dewi, meskipun sebenarnya saya juga tak memiliki  banyak kekuatan melewati ini semua. Suasana hatiku tidak stabil, naik turun antara ingin menyerah atau terus berjuang.

Semakin banyak orang disini yang datang mencari keluarganya. Tangisan disana sini membuat hati siapapun tak akan kuat. Saya semakin drop. Tak jauh, seorang anak kecil sibuk menancapkan ranting kayu di sebuah lumpur. Ranting itu diikatkan sobekan kain di atasnya. Saya pun mendekatinya karena penasaran dengan apa yang ia lakukan.

‘Dek, nama kamu siapa?’

‘Natasha, kak’

‘Ranting itu buat apa? ‘

‘Sebagai penanda, kak’.

‘Penanda apa, dek?’

Saya semakin penasaran.

‘Ibuku terkubur di dalam lumpur ini’

Kerongkongamku tercekat, tidak tahu harus berkata apa lagi.

‘Ya Allah, kuatkan kami’

Air mataku mengalir deras.

‘Kak, jangan nangis ya’.

Natasha malah menghiburku. Tegar sekali anak ini.

‘Ibu sudah tenang disana. Ibu selalu bilang, saya harus kuat jika suatu hari ibuku pergi’.

Air mataku mengalir semakin deras. Saya langsung memeluk dan menciumnya.

‘Kamu anak yang luar biasa, ibumu pasti bangga’.

Ia tersenyum, manis sekali.

Semangatku terpecut kembali. Tuhan sedang berbicara padaku melalui Natasha bahwa tak boleh ada kata menyerah.

Saya kembali memeluknya dan memberikan biskuit yang kuambil dari supermarket pagi tadi.

Rasanya seperti mendapatkan energi baru, saya melanjutkan pencarian mencari mama Dewi. Saya bertanya kesana kemari, sesekali singgah mengecek reruntuhan jika saja ada orang di dalamnya. Dibantu oleh petugas evakuasi yang banyak di tempat itu saya terus menelusuri tiap sudut Balaroa.

Nihil, keberadaan mama Dewi masih belum diketahui. Saya beristirahat karena lelah, lapar dan haus telah melanda. Saya mengeluarkan biskuit dari dalam tas dan sebotol air mineral. Lumayan mengganjal perut yang lapar.

Aroma tak sedap telah semerbak di daerah ini, karena banyaknya manusia yang tertimbun lumpur, juga masih ada beberapa mayat yang tergeletak belum dimasukkan ke dalam kantong mayat hanya ditutupi kain seadanya.

Mama dewi seolah menghilang, tak ada jejak yang ditinggalkan. Kekhawatiran terbesarku adalah ia ikut tertimbun lumpur, tetapi kekhawatiran itu selalu kututupi dengan sebuah keyakinan bahwa ia masih hidup. Ia lari menyelamatkan diri hanya saja belum sempat bertemu dengan kami karena mungkin sama-sama bingung dengan keberadaan masing-masing.

Saya memutuskan kembali ke posko medis tempat Dewi dirawat dan menghentikan pencarian. Saya menyerahkan pada seorang petugas evakuasi jika saja beliau menemukan orang yang sama seperti dengan ciri-ciri mama Dewi yang kujelaskan padanya. Kami saling berjanji, besok saya akan menemuinya kembali di tempat ini. Setelah sepakat dan berterima kasih, saya tinggalkan petugas itu.

Dewi terbaring lemah ketika saya datang menemuinya. Saya jelaskan tentang perjanjianku dengan seorang petugas evakuasi dan besok akan menjumpainya. Dewi hanya mengangguk lemah tak bersemangat.

Kami terdiam dan tenggelam dalam khayalan masing-masing.

Saya menutup mata, menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya.

‘Terima kasih Tuhan atas kehidupan kedua ini’.

Setelah Matahari Terbenam

(Ketigabelas)

Pemandangan di sekitar rumah Dewi tak kalah menyedihkan dengan situasi di sekitar rumahku. Banyak rumah yang rusak berat bahkan runtuh. Rumah Dewi tak begitu parah, hanya beberapa tembok dengan retak yang cukup panjang, namun tidak membahayakan konstruksi bangunan.

Setelah memarkir motor, kami langsung berlari ke dalam rumah.

‘Aduh, terkunci. Kunciku ada di dalam tas yang kupake dua hari yang lalu dan tas itu entah dimana’.

‘Oh iya, saya ingat. Mama biasa menyimpan kunci cadangan di kotak sepatu itu’.

Dewi menunjuk satu kotak sepatu yang terletak di rak sepatu dekat garasi. Saya langsung bergegas mencari kunci itu disana. Beruntung kunci saya temukan disana.

Kondisi di dalam rumah sangat kacau dan berantakan. Lemari terjatuh dan isinya berhamburan keluar. Pecahan kaca juga banyak. Kami berjalan dengan pelan-pelan sambil merapikan barang-barang yang mampu kami angkat.

Kami berputar-putar dalam rumah untuk mencari keberadaan mama Dewi, namun tak ada tanda-tanda kehadiran beliau. Dewi masuk ke dalam kamar mamanya. Ada baju dinas yang tergeletak di atas tempat tidur.

‘Wi, berarti mama sempat pulang dari kantor. Ini baju dinasnya’

Saya menunjuk ke baju dinas yang mungkin digunakan oleh mama Dewi tadi.

‘Iya benar, seingatku mama pakai ini’

Seketika tangis Dewi pecah.

‘Jangan sampai mama ke anjungan menyusul saya’.

Ucapnya dengan terbata di sela-sela tangisnya yang kian menjadi.

Saya memeluknya.

‘Kita berdoa saja, semoga di suatu tempat yang aman’.

Ucapku menenangkan.

Kami lalu keluar dari kamar. Dewi bergegas ke arah kulkas.

‘Mama biasanya nempel pesan di pintu kulkas, mungkin ada pesan yang dia tempel disitu’

Saya mengikutinya.

‘Dewi, jangan pulang larut malam ya!’

Saya membaca pesan itu.

‘pesan itu memang sudah mama tulis ketika saya akan berangkat ke anjungan’

‘Dewi, mama ke rumah tante Ida di perumnas Balaroa ya. Ada acara keluarga disana, mama lupa kasi tau tadi’.

‘Nah, ini pesan terakhir mama. Ra, tolong antar kesana ya’

‘Ayo, kita kesana’.

Saya bersama Dewi segera ke rumah tante ida. Motor melaju dengan cukup kencang, gasnya tak kuberi kesempatan istirahat.

Dari jauh kami melihat lokasi perumnas yang luluh lantak.

‘Apa yang terjadi disini?’

Situasinya berbeda dengan rumahku dan sekitarnya.

Tanah berlumpur dan bergelombang naik dan turun. Rumah sebagian besar hilang ditelan bumi, ada yang roboh, ada juga sebagian yang tertelan masuk ke dalam tanah. Mayat bergelimpangan. Kondisi mereka memprihatinkan, sebagian ada yang tertimbun lumpur dan ada pula yang tertimbun reruntuhan. Petugas evakuasi lalu lalang mengangkat dan memasukkan mayat ke dalam kantong mayat.

Sebuah pemandangan yang sangat memilukan.

‘Mama! Mama!’

Dewi menjerit-jerit memanggil mamanya. Ia menangis meraung-raung melihat kondisi tempat ini dan membayangkan situasi mamanya.

‘Bruk!’

Dewi pingsan. Saya meminta tolong orang-orang di sekitar tempat itu agar membantu mengangkatnya ke tempat yang lebih rata.

Sekitar setengah jam berlalu akhirnya dia pun siuman. Air matanya terus mengalir.

‘Ra, mamaku. Bagaimana kondisinya, dimana dia?’

‘Sabar ya, Wi. Kita kan belum tahu, mungkin saja mama punya peluang untuk selamat’.

Saya kesana kemari mencari informasi tentang mama Dewi sekaligus juga tante Ida. Saya menjelaskan ciri fisiknya mungkin saja ada orang yang pernah melihatnya dan tahu keberadaannya. Namun, nihil. Semua terasa seperti jalan buntu.

Kelelahan, saya kembali ke tempat Dewi beristirahat.

‘Gimana, Ra?’

‘Maaf, ya. Tapi, belum ada info apa-apa’

Semua orang sibuk mencari keluarganya. Kondisi yang chaos begini menyulitkan pencarian.

‘Wi, kita berdoa. Selalu ada peluang jika Allah menghendaki’.

‘Dewi menangis kembali’.

Hatiku perih.

Setelah Matahari Terbenam

(Keduabelas)

Pagi hari ini dimulai dengan sarapan biskuit dan air  mineral. Hanya itu makanan yang tersisa. Mie instan tidak cukup lagi untuk beberapa perut orang dewasa yang tinggal di tenda darurat ini.

‘Pak, sarapannya biskuit saja,ya’.

Ujarku sambil menyerahkan biskuit dan air mineral gelas pada bapak.

‘Iya, tak apa. Nanti setelah ini saya keluar cari makanan sekalian ke rumahnya Dewi’.

Sarapan biskuit tentu tak mengenyangkan apalagi sejak kemarin hanya makan ala kadarnya, tapi apa boleh buat situasi darurat seperti ini harus dijalani dengan sabar dan kuat. Bukan hanya menu sarapan yang sulit, mandi dan ganti baju pun menjadi perkara sulit. Sejak kemarin saya tak mandi karena tak ada air bersih yang mencukupi. Saya ke mesjid namun juga tak ada air. Mesin Pompa air bergantung pada listrik dan listrik telah padam sesaat setelah gempa. Hingga hari kedua kebutuhan air dan pakaian  bersih belum terpenuhi meskipun bantuan telah diberikan ke beberapa posko pengungsian.

Bapak telah berangkat ke rumahnya Dewi untuk mencari tahu keberadaan mamanya, sementara saya berniat untuk kembali ke tenda tempat Dewi dirawat.

Baru setengah jalan, saya melihat dari jauh ada keramaian di depan supermarket toserba. Saya mendekat, ternyata beberapa orang memaksa masuk ke dalam. Kabar yang beredar, pemerintah membolehkan mengambil pakaian dan makanan di toko-toko.

Suasana semakin ramai, orang-orang pun makin beringas menjebol pintu masuk.

Blast!

Pintu rusak dan orang-orang menerobos masuk ke dalam. Saya pun ikut ke dalam mencari makanan yang bisa dimakan untuk sementara waktu dan pakaian untuk mengganti baju yang sudah terlalu kotor. Saya berhasil mengambil beberapa mie instan, biskuit, dan air mineral. Saya juga mengambil dua potong pakaian untuk kupakai nanti. Hanya beberapa saat, barang-barang di supermarket ini telah ludes tak tersisa.

Saya segera melanjutkan perjalanan dengan membawa barang-barang ini. Tak jauh, ada mesjid yang tampak masih kokoh. Kerusakan tak banyak, hanya ada retak-retak di dinding. Saya berlari mencari toilet, beruntung ada air yang cukup untuk membersihkan badan.

Rasanya lebih segar setelah mandi dan mengganti baju. Namun, perut yang keroncongan masih terus meneror hingga saya sampai di posko medis.

‘Kamu sudah makan?’

Salah satu perawat menyambutku demgan pertanyaan.

‘Belum, suster’.

Kujawab malu-malu karena tak ingin terlihat kelaparan padahal perutku berbunyi sejak tadi.

‘Ini ada roti, lumayan pengganjal perut’.

‘Terima kasih’.

Saya pun kemudian mengambil rotinya dan berlalu menuju ke ranjang perawatan Dewi.

‘Hey, kamu sudah bisa duduk?’

Saya senang melihat Dewi telah duduk di atas tempat tidurnya.

‘Iya, alhamdulillah sudah baikan. Badanku masih lemas tapi dibanding kemarin, hari ini lebih baik’.

Kami lalu tertawa bersama. Saya memegang tangannya.

‘Dewi, rencana kita ketemuan kan di anjungan. Seingatku bukan disini.’

Ujarku berusaha melucu.

‘Iya, kamu sih terlambat datang. Akhirnya kan anjungannya hilang.’

Kami tertawa bersama.

‘Sudah ada kabar tentang mamaku, Ra?’

‘Belum, bapak baru kesana tadi. Berdoa saja, semoga beliau baik-baik saja’.

Di tengah serunya perbincangan kami, dokter Arini datang.

‘Pasien sudah boleh pulang. Pemeriksaan terakhir menunjukkan progres yang baik’.

Saya dan Dewi kegirangan.

Karena pasien yang banyak dan kondisi Dewi yang juga telah membaik, kami akhirnya dibolehkan pulang.

Saya mengemasi barang-barang yang kuambil dari supermarket tadi.

Saya melihat Dewi menghampiri pak Ahmad, saya pun ikut mendekat ke arah bapak itu.

‘Pak Ahmad, saya pulang duluan ya’.

Kami berpamitan pada Ahmad. Beliau belum bisa bergerak banyak, tetapi ia menyempatkan diri untuk tersenyuk ke arah kami.

‘Tolong istriku’

Ia mengulang kalimatnya subuh tadi. Saya mendekat.

‘Alamat bapak dimana?’

‘Jl Cenderawasih 1 No 41’

‘Baik, saya akan kesana mencari tahu istri bapak’

Beliau mengantar kepergian kami dengan senyumnya yang ramah. Saya menggandeng tangan Dewi dan berjalan ke arah motor yang kukendarai.

‘Dewi, kita ada amanat dari Pak Ahmad dan ini harus diselesaikan’.

‘Tapi, Ra. Saya juga ingin mencari tahu keberadaan mama’.

‘Ok, saya akan antar kamu pulang, setelah itu saya akan mencari rumah pak Ahmad’.

 

Setelah Matahari Terbenam

(Kesebelas)

Dewi membangunkanku, dia kehausan. Ternyata telah hampir subuh. Saya duduk kembali di samping ranjangnya sambil menunggu waktu subuh setelah membantu Dewi minum, ia tertidur lagi.

Saya mengamati pria yang terbaring tak sadarkan diri  di samping Dewi, saya mengamati wajahnya mungkin saja pernah melihatnya,namun otakku gagal mengirimkan informasi apapun tentang pria itu.

Suasana di luar barak  begitu hening dan mencekam. Hanya suara jangkrik yang sesekali berbunyi. Rasa takut menyerang mengingat barak ini tak jauh dari  tempat mayat-mayat bergelimpangan pagi tadi.

Tiba-tiba tanganku dipegang oleh seseorang dari belakang.

Saya terlompat dari kursi, jantungku sesaat seperti berhenti berdetak.

Ternyata pria yang ditemukan oleh pak Rafael telah sadar. Mulutnya megap-megap seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tangannya mencengkeram tanganku. Dia melawan penyakitnya dan memaksa dirinya untuk berbicara.

‘To..lo..ng   is..tri.. sa..ya..’

Dia terus mengulang-ulang kalimat itu. Awalnya saya tak paham sama sekali, namun dia terus mengulangnya hingga akhirnya saya menebaknya dan  ternyata benar itu yang dia maksud.

Pria paruh baya itu kembali tertidur ataukah tak sadarkan diri setelah menuntaskan kalimat tadi. Ada raut sedih yang mendalam di wajahnya.

Siapa lelaki ini?

Rasa penasaran semakin besar menguasai benakku. Saya akan mencari tahu.

Setelah shalat subuh, saya berniat kembali ke tenda pengungsian bapak. Belum selesai saya memasukkan barang-barang ke dalam tas, Dewi terbangun.

‘Kamu mau kemana, Ra?’

‘Saya mau lihat bapak dulu, ya’.

Dewi meminta diberikan air minum sebelum saya pulang. Saya membantunya minum dengan menggunakan sedotan. Ia telah sadar sepenuhnya, ia terlihat lebih segar. Wajahnya begitu pucat  ketika kami menemukannya kemarin.

Dewi memeriksa keadaan di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, hingga berhenti pada pasien di sampinya.

‘Ada apa, Wi, kamu kenal bapak ini?’

Ia menjawab ragu-ragu.

‘Rasanya saya pernah melihatnya, tapi entaj dimana saya lupa’.

Ia terlihat berpikir keras. Tiba-tiba ia berseru.

‘Pak Ahmad!’

Saya kebingungan.

‘Siapa pak Ahmad?’

‘Sopir taksi online yang mengantarku ke anjungan’.

‘Bagaimana pak Ahmad bisa disini?’

‘Pak Rafael, seorang tentara yang membantuku kemarin mencari kamu, beliau yang membawa bapak ini kesini’.

Dewi terdiam.

‘Saya pulang dulu ya, wi. Bapak akan ke rumahmu dan mencari tahu kabar mama’.

Saya memeluknya kemudian meninggalkannya bersama dengan beberapa suster yang berjaga di posko itu.

Di perjalanan pulang, saya merenung bagaimana hidupku dan Dewi saling bertautan.

Dahulu, kami bertetangga dalam satu kompleks perumahan. Sejak kecil kami berteman. Dewi lebih sering menghabiskan waktunya di rumahku dibandingkan di rumahnya sendiri. Orang tuanya tidak akur dan sering bertengkar. Mama Dewi adalah seorang PNS yang bekerja di kantor pemerintahan, papanya seorang pengusaha yang sering bepergian keluar kota. Dewi kecil awalnya sering dititip oleh mamanya ke ibuku yang seorang ibu rumah tangga sementara mamanya bekerja. Papa yang memang menginginkan seorang anak perempuan lagi merasa doanya terkabul dengan kehadiran Dewi di tengah keluarga kami. Sejak itu ia lebih seperti saudara perempuanku sendiri.

Sampai pada suatu siang di hari sabtu. Kejadian ini mengguncang hubungan kami. Orang tua Dewi kembali bertengkar dan papanya mencak-mencak marah ke orang tuaku. Ia menyalahkan bapak dan ibu dan menganggap mereka sebagai biang ketidakakrabannya terhadap anaknya sendiri. Pertengkaran hebat terjadi karena mamanya membela orang tuaku. Saat itu kami kelas V SD. Pertengkaran itu mengakibatkan perpisahan orang tua Dewi. Mamanya bertahan di Palu dan papanya kembali ke Bandung.

Terlempar ke masa lalu, tak terasa ada kerinduan yang tiba-tiba menyesakkan dada. Saya rindu dengan masa lalu bersama ibu dan Dewi. Tak terasa saya telah sampai di tempat bapak.

Tenda pengungsian di hari kedua pasca gempa mulai memprihatinkan. Makanan mulai berkurang bahkan nyaris habis. Makanan yang dikumpulkan kemarin tersisa mie instan yang lain telah dimakan.

Orang-orang mulai mencari makanan di toko atau kios terdekat, sayang mereka juga telah kekurangan stok. Tak ada listrik, suhu udara yang panas dan BBM mulai langka membuat suasana menjadi tidak menyenangkan.

Hidup akan menjadi lebih berat.

 

Setelah Matahari Terbenam

(Kesepuluh)

Dewi akhirnya berhasil melewati masa kritisnya. Ia membuka matanya pelan-pelan ketika saya membuka mukena selesai shalat isya. Kondisinya masih sangat lemah, namun ia telah mampu tersenyum. Saya memeluknya erat seolah tak ingin melepasnya.

Saya harus bolak balik dari tenda pengungsi darurat ke posko medis tempat Dewi dirawat. Di satu sisi saya ingin bersama bapak melewati masa sulit ini, namun beliau juga  menyuruhku untuk terus mendampingi Dewi sampai kondisinya membaik. Malam ini saya akan tidur disini bersama Dewi.

Posko medis ini adalah barak yang biasa digunakan oleh tentara. Rumah sakit terbesar di kota ini  telah luluh lantak sehingga tak dapat digunakan. Akhirnya dibangunlah beberapa posko medis darurat yang tersebar di beberapa titik untuk menangani korban gempa.

Saya kemudian mengambil kursi dan duduk dekat ranjangnya.

‘Hai, udah baikan?’

Tanyaku dengan setengah berbisik karena khawatir mengganggu 5 pasien lain yang juga sedang dirawat bersama Dewi.

‘Kepalaku masih sakit. Perih’

Ia menjawab sambil meringis.

‘Mamaku gimana ya, Ra?’

Dewi tiba-tiba bertanya sambil menangis.

Saya memeluk sambil menenangkannya. Ia cukup terguncang karena belum mengetahui kondisi  mamanya.

‘Kemungkinan besar mama di kantor pas kejadian’.

‘Besok  bapak akan ke rumahmu untuk mencari tahu kabar tentang mama. Sekarang udah hampir jam 9, tak banyak yang bisa dilakukan dengan situasi kota yang sedang gelap gulita seperti ini’.

‘Rasanya ini seperti mimpi, Ra. Saya masih tak percaya dengan apa yang  kulihat dan yang kurasakan’.

‘Iya, kita anggap ini sebagai mimpi buruk yang akan berlalu. Kamu butuh banyak istirahat. Tidurlah, saya disini akan berjaga kalau kamu butuh bantuan’.

Saya merapikan selimut Dewi, tak lama ia pun tertidur.

Saya menggabungkan dua kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur Dewi. Saya pun mencoba meluruskan badan. Badan rasanya remuk setelah melewati hari yang panjang ini. Pencarian untuk menemukan Dewi menyedot banyak energi.

Mataku terpejam, rasanya saya telah tertidur beberapa saat hingga  terbangun karena mendengar suara ribut di luar tenda. Saya segera bangun dan bergerak cepat ke sumber suara tadi.

‘Suster, tolong segera berikan bantuan medis. Kami menemukannya terkapar di sekitar mesjid.

‘Pak Rafael, siapa dia’?

Saya menunjuk ke pria yang digendong oleh pak Rafael.

‘Saya tidak tahu’.

Pak Rafael mengangkat pria itu dan meletakkannya di atas salah satu ranjang pasien. Dokter Arini bersama dengan dua dokter lainnya memeriksa kondisi pasien.

Pasien sangat kritis kondisinya. Alat alat vital tidak begitu merespon, namun denyut nadi masih ada. Berbagai peralatan medis segera dipasang di tubuh pria itu agar bisa segera sadar.

Ia koma.

Dokter Arini menyampaikan ke pak Rafael setelah membaca hasil pemeriksaan tim dokter. Sepertinya ada pendarahan di dalam kepala mungkin akibat benturan keras.

Hening.

Dalam beberapa waktu saya telah melihat rapuhnya kehidupan. Kematian Fadlan masih menyisakan sesak di dada. Pencarian untuk menemukan Dewi membuat saya harus memeriksa beberapa mayat dan pria yang dibawa oleh pak Rafael, ia terjebak di antara kehidupan dan kematian.

Kehidupan seperti apa yang menanti kami di esok hari?

Kepalaku pening memikirkan semua ini.

Saya pamit pada pak Rafael dan mencoba untuk memejamkan mata kembali. Rasanya saya tak mampu memahami rencana Tuhan dibalik semua ini.

Saya hanya ingin tidur, berharap esok semua akan membaik kembali.

 

Setelah Matahari Terbenam

(Sembilan)

Mungkin ini hanya halusinasi saya karena kelelahan. Sekali lagi saya mendengar suara itu. Sayup-sayup terbawa angin.

Akhirnya saya tanyakan ke pak Rafael kalau ia mendengar hal yang sama.

‘Saya mendengar suara minta tolong. Pak Rafael dengar juga?’

Seketika ia memasang telinga. Cukup lama, namun wajahnya tidak menunjukkan ia mendengar sesuatu.

‘Tolong’.

‘Nah, itu suara, pak’.

Seketika saya melompat diikuti pak Rafael. Saya yakin dari dalam ruangan ini. Kami berdua berusaha menyingkirkan kayu yang melintang di depan pintu. Dibantu oleh beberapa orang, akhirnya berhasil disingkirkan.

Saya bersama dengan beberapa tentara lainnya menerobos masuk. Ruang kantor kacau balau. Meja, kursi, dan barang-barang lainnya saling tumpang tindih. Saya diminta keluar oleh seorang tentara sementara mereka membersihkan barang-barang di dalam ruangan itu.

Akhirnya pembersihan selesai. Ruangan telah sedikit berubah dan pencarian lebih mudah. Mereka menyisir satu ruang ke ruang lainnya. Saya ikut bersama pak Rafael.

Dewi!

Saya melihatnya terbaring di atas tumpukan  lemari dan meja. Saya langsung berlari dan memeluknya erat. Denyut nadi masih ada namun lemah. Ada sisa darah yang mengeras di jilbabnya. Saya cek kepalanya, ada luka yang cukup parah.

‘Ayo, kita bergegas membawanya ke posko medis’.

Kalimat pak Rafael diikuti tindakan cepat oleh beberapa anggota TNI yang membantu kami.

‘Pasien kritis’.

Dokter Arini singkat menyampaikan setelah ia memeriksa kondisi Dewi. Ia kehilangan cukup banyak darah dan butuh transfusi segera mungkin.

‘Saya siap donor, dok’.

‘Nama Anda siapa?’.

‘Rani Ramadhani’.

‘Suster, tolong nona ini dibawa ke bilik belakang untuk persiapan donor’.

Kami tumbuh bersama sejak kecil dan kami punya golongan darah yang sama. Namun, ini kali pertama saya akan menyumbangkan darah untuknya. Dewi jarang sakit sejak dulu.

‘Maaf, kondisi Anda tidak memungkinkan untuk donor’.

‘kenapa, suster? Saya merasa baik-baik saja’.

‘HB darah Anda rendah’

Kebahagiaan yang meliputi sesaat tadi kini seketika menguap. Saya berusaha lagi, tak ingin terlalu cepat menyerah.

‘Saya siap tanggung resiko’

Ujarku tegas.

Dokter dan suster berdiskusi. Mereka saling berbisik seolah takut saya dengar.

‘Tetap tak bisa. Ada beberapa resiko donor dengan HB rendah. Darah Anda juga akan berpengaruh buruk terhadap kondisi pasien jika HB tidak dalam kondisi normal’.

Saya mendengarkan penjelasan dokter dengan rasa sedih yang membuncah.

‘Saya siap donor, dokter’.

Pak Rafael rupanya menyimak dari tadi. Tak ingin membiarkan kondisi ini berlarut-larut, ia pun mengajukan diri.

Dewi belum juga siuman setelah seharian terbaring tak sadarkan diri. Saya menyempatkan diri pulang menemui bapak yang masih bertahan di area bekas kompleks perumahan kami. Rupanya telah ada tenda darurat yang dibangun oleh swadaya masyarakat. Mereka juga saling mengumpulkan makanan yang tersisa dari hari sebelumnya kemudian makan bersama di bawah tenda. Saya pun ikut  karena sejak semalam belum makan apa-apa kecuali hanya minum air.

Sambil makan, saya menceritakan kondisi Dewi pada bapak.

‘Dewi sudah seperti anak bapak. Dulu, saya ingin memiliki dua anak perempuan, tapi Tuhan hanya kasi satu. Ibumu tidak bisa hamil lagi karena kanker ovarium’. Eh, ternyata Dewi datang di kehidupan kita’.

Kami tersenyum. Mengenang masa lalu bersama Dewi, mama, dan bapak.

 

Setelah Matahari Terbenam

(Kedelapan)

Matahari menampakkan diri dari ufuk timur. Pendaran cahayanya pelan-pelan menunjukkan kekacauan yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami dengan lebih jelas.

Kejadian kemarin malam seperti sebuah mimpi terburuk yang pernah kualami. Ia menyedot ke dalam ruang dan waktu yang berbeda, tak berujung. Setiap ruang hanya diisi oleh kesedihan dan keperihan.

Mentari pagi ini tak datang membawa semangat. Jelas berbeda dari biasanya. Entah kemana rasa optimis menguap. Hanya kehampaan yang menganga dalam relung hati, begitu lebar.

Saya sadar hidup telah terjungkir balik namun bukan berarti menyerah, meskipun saya dan bapak juga belum ada rencana ke depan.

‘Ra, Dewi gimana?

Pertanyaan bapak terasa seperti sebuah guntur. Begitu tiba-tiba. Sesaat saya lupa dengan Dewi, sahabat terbaikku. Kekacauan ini telah mengalihkan pikiranku dari Dewi dan kini saya baru ingat tentang dia dan kondisinya kini.

‘Apakah dia baik-baik saja’?

Saya tersandera oleh pertanyaan ini, terus berputar-putar di dalam kepalaku.

‘Pak, saya ingin mencari Dewi di daerah pantai Taman Ria. Pesannya yang terakhir, dia sudah disana ketika kami janjian’.

Pukul 8 lewat, saya tak mampu lagi menahan diri lebih lama tanpa melakukan apa-apa untuk mencari Dewi. Meskipun bapak setengah hati mengizinkanku ke pantai, namun saya tetap berangkat.

Perjalanan ke arah pantai jauh lebih berat dari biasanya. Aspal yang terbongkar disana sini, sisa tsunami juga masih banyak di jalanan seperti kayu dan sampah sehingga saya harus pelan-pelan mengendarai motor.

Kepiluan jelas tergambar disini. Sepanjang jalanan di pantai telah rusak parah, kayu-kayu berserakan, dan mayat-mayat bergelimpangan. Rasanya saya tak mampu melihat semua ini dan ingin berlari pulang ke bapak, namun di sisi lain kekhawatiranku terhadap Dewi juga membuatku kuat. Saya tak ingin menyerah. Melihat pemandangan ini, air mataku terus mengalir.

Saya memarkir motor tidak jauh dari titik janji pertemuan kami. Anjungan telah hilang tergerus Tsunami. Saya memulai pencarian di sekitar area bekas anjungan. Tidak mudah karena banyak orang lain yang juga melakukan yang sama sepertiku; mencari anggota keluarga atau sahabatnya.

Saya melapor pada seorang anggota TNI yang bertugas mengevakuasi daerah ini agar dibantu mencari Dewi. Saya jelaskan ciri-cirinya dan memperlihatkan satu fotonya yang ada di handphone-ku. Sang tentara mengiyakan bahkan mengajak dua temannya yang lain untuk ikut membantu. Saya bersyukur karena saya jelas tak mampu melakukan ini sendiri meskipun semangatku menggunung.

Mereka berpencar untuk memperluas area pencarian. Saya masih bersama Rafael, sang tentara yang pertama kali membantuku.

Berjalan di tengah mayat yang bergelimpangan membuatku terus bergidik ngeri.

‘Ini hanya mimpi buruk’.

Saya mengucapkannya di dalam hati berulang-ulang agar saya tidak depresi.

‘Awas, jangan sampai mayat tersentuh tanpa kaos tangan. Berbahaya!’

Ujar pak Rafael kemudian menyerahkan kaos tangan baru.

‘Baik, pak’.

Kami terus melanjutkan pencarian. Kami telah mengecek banyak mayat di sekitar daerah bekas anjungan, namun tak ada Dewi di antara salah satu dari mereka. Saya tak ingin menyerah meskipun lelah mendera dengan begitu hebat.

‘Kenapa kita tak ke arah TVRI? Mungkin saja temanmu berlari ke arah sana dan  dia mampu menyelamatkan diri’.

Saya tak memikirkan ini sebelumnya karena sibuk memeriksa mayat satu persatu.

‘Ayo, pak.’

Kami langsung bergegas kesana. Beberapa mayat tergeletak di lapangan depan kantor TVRI.

Pencarian dilanjutkan, namun yang dicari tak kunjung ditemukan. Harapan telah menipis.

‘Istirahat dulu, Rara. Kurang lebih dua jam kita sudah berputar-putar mencari temanmu’.

Akhirnya saya duduk di sebuah kayu yang melintang dekat pintu masuk kantor TVRI. Melepas penat dan lelah. Saya mengeluarkan air minum dari tas sisa semalam yang saya berikan ke ibu Eddy.

Tolong! Tolong!

Tiba-tiba saya mendengar ada suara. Sayup-sayup meminta tolong..

☆syarpasinr☆

Setelah Matahari Terbenam

(Ketujuh)

Hatiku hancur tak karuan seperti kondisi rumah kami saat ini. Saya menutup mata dengan air mata yang terus mengalir. Sebuah kenyataan menyakitkan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Gempa 7.4 tidak hanya meluluhlantakkan tempat tinggal kami, tetapi juga membuat kami terjatuh dan terpuruk ke titik nol. Rumah tempat saya melewati masa kecil hingga sekarang, di setiap senti di dalamnya memiliki kenangan bersama ibu, bapak dan dewi kini telah hilang membawa kenangan itu bersamanya. Perih!

‘Ra, kita harus kuat, nak’.

Bapak menepuk pundakku dan menuntunku berdiri. Tak ada yang mampu kita lakukan saat ini kecuali berdoa dan berserah diri pada Allah. Pemilik semesta ini. Rumah dan semua harta yamg kita miliki  hanya titipan dan ini waktunya berpulang pada sang Pemilik.

Dengan sesenggukan saya mengiyakan kalimat Bapak.

‘Kamu tunggu disini, nak. Bapak akan kesana dulu, mungkin masih ada beberapa barang yang bisa diselamatkan’.

Bapak berjalan ke arah onggokan reruntuhan rumah kami.

Tiba-tiba Bapak memanggil dari jauh.

‘Rara, cepat kesini!’

Saya langsung berlari ke arah Bapak.

‘Ada apa, pak?’

‘Kamu lihat lobang dari retakan tanah di bawah itu? Saya melihat ada tangan disitu tadi. Coba kamu senter, nak’.

Seketika saya mengikuti perintah Bapak. Benar dugaannya, ada tangan yang melambaikan tangan ke atas meminta tolong. Ia merintih namun suaranya melemah, mungkin sejak tadi ia berteriak meminta tolong.

Bapak dengan sigap berusaha menyingkirkan bongkahan reruntuhan bangunan yang menimpa sebagian lobang itu. Dengan susah payah akhirnya bapak berhasil menyingkirkan sebagian reruntuhan sementara saya terus meneranginya lewat senter handphone.

Seorang ibu bersama dengan anaknya yang masih kecil. Kami dapat mengenali wajahnya dengan jelas karena debu reruntuhan yang menutupi rambut dan wajahnya. Tampak sangat lemah, namun ada semangat hidup disana.

Separuh badannya tertimbun dalam reruntuhan bangunan. Beruntung, reruntuhan tertahan oleh sebuah tiang yang menyangga sehingga badan si ibu tidak remuk. Namun, ia juga tak mudah menarik badannya keluar dari reruntuhan itu karena sempit dan ia terjepit di tengah reruntuhan.

Bapak lalu berlari mencari pipa besi atau kayu yang bisa digunakan untuk sedikit melonggarkan ruang agar ibu itu bisa keluar.

‘Ibu, mau minum?’

Saya teringat ada air minum di tas. Saya kemudian mengambil air dan membantunya minum.

‘Terima kasih, nak’.

Masih dengan suara lemah namun ia berusaha tersenyum.

‘Anak ibu, bagaimana?’

‘Belum bergerak dari tadi, mungkin ia pingsan. Saya tak mampu memeriksanya karena posisinya yang lebih terjepit’.

Sang ibu menjelaskan sambil menangis.

Tak lama, Bapak datang. Ia membawa kayu balok yang akan ia gunakan untuk mencungkil sebagian reruntuhan agar bisa memberi ruang yang cukup lebar untuk si ibu.

Tak mudah menyingkirkannya karena berat, namun bapak terus berjuang. Saya berteriak meminta tolong setiap ada seseorang yang melintas dekat kami. Saat itu semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saya terus berteriak hingg seorang bapak menghampiri kami.

‘Pak Darman?’

Ia menyapa bapak.

Bapak menoleh seketika mendengar namanya dipanggil.

‘Pak Eddy!’

‘Tolong bantu saya, pak Eddy. Saya ingin menyingkirkan reruntuhan agar si ibu bisa keluar dari sana’.

Bapak menjelaskan sambil menunjuk ke arah si ibu.

Pak Eddy seketika melompat ke arah si ibu.

‘Ibu, ini kamu ya? ‘.

‘Ini istri saya, pak Darman. Saya yakin’.

Pak Eddy terdengar seperti akan menangis menyebut kalau ini adalah istrinya.

Mereka kemudian saling membantu untuk mengeluarkan ibu Eddy dari reruntuhan. Melewati perjuangan panjang, sedikit demi sedikit akhirnya si ibu berhasil menggerakkan badannya dan berhasil keluar.

Ibu Eddy menangis sejadi-jadinya sambil memeluk suaminya.

‘Pak, anak kita masih ada di dalam. Ia terjepit’.

Ibu Eddy menjelaskan diiringi isak tangis. Saya berusaha menenangkan sambil terus menerangi perjuangan bapakku dan pak Eddy untuk.mengeluarkan anaknya.

‘Fadlan, kamu bisa dengar ayah?’

Tak ada jawaban.

Pak Eddy mengulang memanggil anaknya, namun tetap tak ada jawaban.

‘Kita coba angkat reruntuhan ini’.

Bapak menawarkan saran ke Pak Eddy. Mereka kemudian bersama-sama berusaha mengangkat reruntuhan itu, namun usahanya nihil. Tak ada pergerakan. Terlalu berat untuk kekuatan mereka yang telah melemah.

‘Ayah..ayah..’.

Tiba-tiba ada suara dari dalam reruntuhan. Lemah. Ia terus memanggil.

Pak Eddy tengkurap dan mengintip ke dalam lobang. Ia berusaha menggapai tangan sang anak.

‘Ayah..kaki Fadlan hilang’.

Air mata membanjiri mata pak Eddy. Ia terisak sambil terus memegang tangan anaknya. Ia menguatkan anaknya.

‘Fadlan, kuat. Ayah bantu keluar dari sini.’

Pak Eddy terus berusaha mengangkat reruntuhan, namun ia tak mampu. Tenaganya tidak cukup. Bapak pun telah kehabisan tenaga.

‘Ayah, mulut Fadlan berdarah’.

‘Iya, sabar ya, nak. Sebentar lagi ayah akan keluarkan kamu dari sana’.

Masih belum ada bantuan, kecuali bapak dan pak Eddy. Berpuluh-puluh  kali mereka mencoba namun reruntuhan itu tetap tak mampu bergerak.

Pukul 11 malam, akhirnya datang pak RT dan beberapa laki-laki lainnya. Bantuan mulai dikerahkan; linggis dan sejumlah peralatan lainnya yang digunakan untuk mengeluarkan Fadlan.

Usaha telah dikerahkan, namun kekuatan manusia ada batasnya. Fadlan tetap terkurung dan belum  bisa dikeluarkan.

Pak Eddy dan istrinya kemudian kembali tengkurap mengintip Fadlan lewat lobang tempat ibu Eddy tadi.

Fadlan tak mampu lagi bersuara. Ia semakin lemah, selain karena oksigen yang menipis juga pendarahan di kakinya yang terjepit reruntuhan.

Pak Eddy terus menggenggam tangan sang anak. Dingin. Denyutnya lemah.

Fadlan..Fadlan..

Pak Eddy memanggil, tak ada jawaban.

Fadlan, ikuti ayah ya, Nak.

Suara pak Eddy lirih menahan perih di hati.

‘Allahu Akbar’.

‘Asyahdu Anla Ilaaha Illa Llah’

‘Wa asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah’

Seiring dengan syahadat yang dilafalkan sang ayah, genggaman tangan fadlan terlepas.  Denyut nadi tak ada lagi.

‘Maafkan ayah, nak’.

Malam itu keperihan meliputi hati kami, bukan hanya ibu dan pak Eddy.

Setelah Matahari Terbenam

(Keenam)

Ra! Rara!

Saya mendengar namaku dipanggil dari jauh, jauh sekali. Saya berada di sebuah ruang kosong tanpa tepi dan tak menemukan siapa pun disini selain diriku sendiri.

Ra!  Rara!

Kembali ia memanggilku. Saya melihat ke sekeliling mencari darimana sumber suara itu. Namun, sekali lagi saya tak menemukan ada orang lain disini.

Suara itu semakin dekat. Tangannya memegang tanganku dan menuntunku kembali.

Bapak!

Mataku terbuka. Kuedarkan pandangan sambil berusaha mencerna situasi yang sedang kualami. Saya terbaring di atas sebuah karpet hijau lusuh yang biasa dipakai di ruang shalat kampus, namun ini bukan di ruang shalat melainkan ruang terbuka beratapkan langit. Dikelilingi oleh teman-teman dan satu orang yang sangat kukenal, Bapak.

Ia tersenyum ke arahku, namun masih ada sisa kecemasan yang tersisa di wajahnya.

‘Tadi kamu pingsan. Lama sekali, saya khawatir kamu akan tinggalkan bapak, sendirian disini’.

Mataku berembun. Bapak adalah satu-satunya harta yang paling berharga yang kumiliki saat ini setelah ibu meninggal 6 bulan yang lalu. Kejadian itu membuat kami terpuruk, namun saya berjanji untuk mengembalikan senyum bapak makanya saya keras terhadap diriku sendiri agar kelak bisa membuat bapak bangga.

‘Ra, syukurlah kamu sudah sadar’.

‘Ratih, apa yang terjadi?’.

‘Tadi gempa dan kamu pingsan disini’.

Bapak terus memegang tanganku dan membantuku untuk duduk. Ratih memberiku air minum, saya minum beberapa teguk.

Saya telah sepenuhnya pulih dan ingat apa yang terjadi magrib tadi.

‘Handphoneku mana, ratih?’

Ratih menyerahkan benda yang kucari.

‘Tadi saya masukkan ke tas sewaktu kamu pingsan, khawatir nanti hilang atau terinjak’.

Segera saya membuka pesan whatsapp.

Lagi-lagi saya shock membaca pesan terakhir dari Dewi. Air mata kembali mengalir deras. Saya tak mampu membayangkan kondisi Dewi saat terjangan tsunami datang.

‘Bapak, bagaimana bisa sampai disini?’.

‘Saya menelponmu sesaat setelah gempa namun tak bisa tersambung, saya langsung kesini mencarimu’.

Bapak menceritakan situasi jalanan dari rumah ke kampus yang kacau. Aspal sebagian besar rusak, nyaris tak mampu dilewati oleh kendaraan kecuali motor. Orang-orang lari menyelamatkan diri  ke jalanan membuat semakin sulit untuk dilewati.

Mencerna keadaan kemudian kami memperhitungkan langkah apa yang diambil selanjutnya. Bapak, Ratih, Agung, Satria dan saya berembuk kemudian diputuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Kepanikan masih belum beranjak, gempa susulan terus terjadi tiap beberapa menit. Kami mengendarai sepeda motor dan saling beriringan sampai pada persimpangan 5 di jalanan utama ke arah kampus kami berpisah.  Saya dan Bapak beriringan menuju rumah.

Gelap seperti akan memangsa kami. Listrik tak berfungsi karena sebagian besar jaringannya rusak karena gempa. Kami terus melaju di tengah kegelapan. Sesekali motor melambat karena aspal yang rusak.

Kami sampai di jalanan protokol ke arah kantor gubernur, kekacauan tampak jelas disini. Selain banyak bangunan yang runtuh, juga orang-orang memadati jalanan. Ada yang berlari hanya mengenakan pakaian seadanya, menangis dan histeris karena kehilangan keluarganya, juga ada yang terluka di kaki, kepala dan banyak lagi kekacauan lainnya.

Bapak menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan dan terus ke arah rumah. Bapak belum tahu kondisi rumah. Ia langsung mendatangiku di kampus dari kantor dan belum sempat pulang. Hatiku semakin tidak karuan melihat situasi yang kami temui di jalanan. Semakin dekat ke arah rumah, semakin banyak rumah dan gedung yang rusak bahkan roboh. Kekacauan bahkan lebih terasa disini dibandingkan di daerah sebelumnya.

Orang-orang berteriak, menangis, dan ada juga yang berdzikir menyebut nama Allah. Rumah kami tak jauh lagi.

Kobaran api terlihat menjilat-jilat langit. Kami tak bisa lebih dekat lagi. Kompleks perumahan yang kami tempati tampak lain dari biasanya. Tak berbentuk perumahan, kecuali seperti tumpukan kertas yang habis diremas.

Bapak memarkir motor di tepi toko di pinggir jalan dan saya ikut memarkir di sampingnya. Kami lalu berjalan kaki menuju kompleks perumahan yang telah berubah kondisi. Bantuan senter di handphone dan ingatan yang melekat di kepala akan daerah yang telah ditempati berpuluh puluh tahun lalu ini menuntun kami untuk  semakin dekat ke kompleks perumahan. Medannya menjadi begitu sulit untuk ditempuh, permukaan tanah naik turun. Tanah retak dan membuat lobang yang menganga.

Semakin dekat…

Namun, yang kami temukan sungguh membuat kami menangis dan tak mampu berkata apa-apa lagi.

Onggokan rumah saling bertumpuk. Rumah kami hilang tak berbentuk. Bapak yakin disini letak rumah kami, namun tak ada lagi rumah disitu kecuali reruntuhan bangunan tak berbentuk.

Saya dan bapak hanya berpelukan.

Bagaimana hidup akan berlanjut, pak?