Kisah kelima

12 Desember 2015

Hari kelima #Ayomenulis2015

Pisang.

3 bulan sebelum berangkat ke Jerman saya jatuh sakit. Mungkin karena kecapean setelah mengurus beberapa kegiatan Bahasa Jerman di sekolah. Dokter menyarankan istirahat, namun permohonan beasiswa Sprachkurs telah disetujui dan sudah dipastikan akan dimulai pada bulan April 2013. Bimbang diantara 2 pilihan, akhirnya saya memantapkan diri untuk tetap berangkat memenuhi impian.

Hidup di Jerman memang tidak pernah mudah, awalnya. Saya membayangkan Alice yang terjatuh pada sebuah lubang di belakang rumahnya lalu ia menjadi kecil, kucing yang berbicara, dan ratu berkepala besar. Meski semua terasa terbalik, tetapi akhirnya hidupku lebih bermakna setelahnya. Pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik.

Menemukan makanan halal cukup sulit disini. Meskipun Kafe atau restoran turki cukup banyak, namun doner sudah mulai membuatku bosan sedangkan harga makanan halal lainnya cukup mahal. Saya pun telah  menerapi diri bahwa ketergantunganku pada beras harus dihentikan agar doner bisa menarik seleraku lagi, namun sialnya bayangan kelezatan nasi kuning yang dijual di depan SMAN 2 Palu selalu menghantui dan meneror ketenanganku.

Pisang. Tiap sore saya selalu menyempatkan diri ke Rewe (supermarket khas Jerman) untuk membeli pisang, susu, dan strawberry. Susu dan strawberry biasanya saya campur lalu saya makan saat sarapan. Pisang saya bawa ke ruang belajar Goethe Institut atau kemanapun saya pergi sebagai bekal. Empat buah pisang selalu ada di ranselku. Satu atau dua  saya makan saat istirahat pertama lalu sisanya saya simpan jika ada acara jalan jalan yang mungkin akan membuat saya  susah menemukan makanan halal atau yang cocok dengan lidah Indonesiaku. Alhasil, Ivan telah membaca kebiasaan ini karena melihat terlalu seringnya saya makan pisang.
“Die Banane” begitu dia mengejekku, bahkan panggilan ini telah menyebar dan hampir seluruh teman teman yang mengenal saya memanggilku dengan sebutan itu.

Pisang di Indonesia telah berbeda, bukan hanya bentuknya tetapi juga karena tak ada lagi seremonial yang mengiringi prosesi makan pisang itu.

Sampai ketemu lagi, kawan.

image.

Gambar diambil dari Google.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s