Kisah keenam

13 Desember 2015

Hari keenam #Ayomenulis2015

Wifi

Jika di Indonesia saya selalu menunggu kedatangan hari minggu, lain halnya ketika di Jerman. Minggu terasa begitu sepi karena masing masing sibuk dengan urusannya.  Ivan biasanya menghabiskan hari minggunya dengan nongkrong seharian di kafe Tong-Pa depan WG sambil minum kopi dan marlboronya . Amit lain lagi, biasanya dia hanya sibuk belajar di kamar,sesekali keluar hanya untuk beli makanan lalu berhibernasi kembali di kamarnya. Leo yang masih cukup mudah ditemui meski juga kadang menghilang entah kemana.

Minggu bisa jadi menarik jika sedang ada program budaya. Kunjungan ke Heidelberg dan Istana Bruchsal semua dilakukan pada hari minggu. Namun, program budaya lebih sering dilakukan pada hari jumat atau sabtu sehingga minggu menjadi hari mati gaya dan tak tahu mau kerja apa. Jika seandainya isi dompet berlimpah, mau saja saya berkunjung ke kota kota lainnya. Berlin, Freiburg, Muenchen, Stuttgart atau Bonn telah saya catat sebelum berangkat ke Jerman sebagai daftar kota yang akan saya kunjungi, namun apa daya ‘Euro teuror’ istilah herr Fred jika membicarakan harga yang mahal. Tiket kereta mahal belum lagi kehawatiran akan kondisi badan yang belum total fit sehingga keinginan itu tak terpenuhi.

Tak ada wifi di WG. Jaringan internet hanya tersedia melalui kabel lan. Sayangnya saya tidak membawa laptop dari Indonesia jadi jaringan internet di WG tidak bisa saya gunakan. Bahkan kafe Tong -Pa  pun tak menyediakan wifi, kafe buat ngobrol bukan tempat main hape, begitu jawaban salah satu pelayan yang saya tanya soal ketersediaan wifi di kafe itu. Satu-satunya tempat yang saya tahu menyediakan wifi adalah Goethe Institut, tetapi pada hari minggu juga ditutup. Pernah suatu waktu, saya benar-benar kelimpungan di WG tak tahu mau kerja apa. Gerimis juga telah turun dari sejak pagi.  Karena sudah lelah berputar putar di WG, saya nekat ke Goethe Institut walaupun saya tahu ia pasti ditutup karena hari ini minggu. Mantel merahku melindungiku dari gerimis. saya aman dari basah namun dingin, tidak. Benar saja, pintu Goethe Institut terkunci. Disamping pintu utama  ada sebuah meja dan dua bangku panjang dari kayu yang terlihat cukup basah. Lelah sehabis berjalan karena jarak WG dan Goethe Institut yang cukup jauh, saya pun merelakan bagian belakang celanaku basah karena saya telah duduk di salah satu bangku panjang itu. Iseng, saya hidupkan wifi tabku untuk mencari jika ada sinyal wifi yang aktif disekitarku. Dugaanku benar, wifi Goethe Institut aktif. Bahagia itu benar benar sederhana. Selama satu setengah jam saya duduk sendiri di  bangku panjang itu,  menghibur diri dengan whatsapan dengan teman di Indonesia meski gigi gemerutuk menahan dingin. Hal yang tidak mereka ketahui ketika menanyakan kabarku saya katakan bahwa saya baik baik saja, padahal kenyataannya  saya menahan dingin demi wifi.

Salah satu momen emosional dan rahasia kecil yang baru saja terbongkar, bahkan teman-teman di WG tak pernah tahu hal ini.

Saat ini akses wifi dengan mudah saya dapatkan. Saya tak perlu menahan dingin atau berdiri depan pintu jika sewaktu waktu sinyal melemah dan harus berpindah posisi. Hari ini saya duduk nyaman di rumah menikmati wifi, tetapi saya rindu dengan momen itu.

IMG_20140623_192633

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s