Kisah kesembilan

17 Desember 2015

Hari kesembilan #Ayomenulis2015

Koper 

Saya mulai khawatir. Saya dan Subhan telah menunggu di bagian bagasi ini dari 30 menit yang lalu. Satu persatu penumpang  telah menemukan koper mereka sementara kami masih celingukan mencari, dimana kiranya koper kami berada.
‘Tuhan, saya tak mampu membayangkan jika koper kami tercecer’
pintaku dalam hati.
Kami masih menunggu meski hatiku semakin tak tenang, Subhan juga sudah mulai panik.
‘Kak, bagaimana mi ini?’
Tanya ia kepadaku dalam logat makassar. Kujawab singkat.
‘Kita tunggumi saja dulu, 10 menit kalau nda datang kita cari bagian pengaduan’. Saya berusaha tenang meski hatiku ketar ketir, tanganku mulai basah karena cemas.
10 menit berlalu, bagian pengambilan bagasi benar-benar telah kosong kecuali 3 Penumpang yang masih tersisa termasuk kami. Saya dan Subhan saling bertatapan, rupanya ada seorang cewek bule yang juga mengalami hal yang sama.
Tetapi diantara semua kepanikan yang melanda kami, yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan bahasa Jerman kami yang tiba-tiba hilang.
‘Kak bertanyaki’.
Subhan sudah mulai merengek agar saya bertanya ke bagian pengaduan.
‘Ayo paeng,sama-samaki.’
jawabku mengajak dia agar mencari bagian pengaduan bersama-sama.
Saya balik bertanya ke dia.
‘Bagaimana bahasa Jermanmu, saya kok hilang ya, nda tau mau bilang apa’.
Tanyaku padanya masih dalam logat makassar.
Rupanya dia mengalami hal yang sama. kami lalu saling tertawa lebar. Beberapa orang yang lalu lalang di sekitar kami memperhatikan kami. pasti kami terlihat sangat udik. Untuk sesaat kami lupa bahwa kami sedang mengalami kesulitan. Tawa kami lalu mereda dan cemas itu datang lagi bahkan makin hebat.
Kami melihat ke kanan dan kiri, lorong-lorong panjang seolah tak berujung. Papan-papan penunjuk di atas kami seolah mengejek melecehkan kami yang sangat katro.
Tuhan, kok begini amat ya?
sungutku dalam hati.

Akhirnya kami berdiri di depan bagian pengaduan berkat bantuan seorang pria asing yang mungkin kasihan melihat kami. Sang petugas kemudian menyodorkan kami formulir untuk diisi. Ia menanyaiku mengenai ciri-ciri koper kami. Saya pun jelaskan dengan terbata-bata, bahasa Jermanku rasanya mandet di tenggorokan dan tak mampu terucap. Subhan tak kalah memprihatinkan kondisinya.
Saya lalu menjelaskannya dengan menggunakan bahasa inggris karena lelah berusaha untuk menggunakan bahasa Jerman namun belum juga berhasil. Mungkin kami shock karena kondisi yang kami alami dan ke-tak percayaan kalau kami benar-benar telah di Jerman. Antara girang, gugup, dan cemas semua tercampur jadi satu.

Setelah melewati proses yang cukup panjang akhirnya prosedur yang dibutuhkan agar koper kami bisa ditemukan telah selesai.
Kami sedikit lega karena si petugas mendapatkan konfirmasi dari maskapai Singapore Airline, pesawat yang kami gunakan dari Jakarta, ternyata barang kami ikut di pesawat Lufthansa karena kesalahan dari petugas bandara Soekarno Hatta ketika kami check in.
Si petugas meyakinkan kami  bahwa koper itu akan diantarkan ke alamat paling lambat 3 hari.
Saya dan subhan bernafas lega sambil berdoa, semoga saja besok koper kami sudah diantarkan.

Takdir berkata lain, 3 hari tanpa ganti pakaian adalah sebuah mimpi buruk dan mimpi buruk itu  terjadi padaku.

Frankfurt-Airport

Keterangan: Gambar diambil dari Google

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s