Die Fremde (Teil 2)

Bagian kedua

“Malam ini ada pesta di Keller”, singkat temanku menyampaikan pada perjalanan pulang. Siang itu gerimis nakal mulai turun, rinainya pelan-pelan membasahi rambutku. Kami semua tergesa-gesa sehingga tak dapat mengobrol lama.
‘Malam ini?” tanyaku dalam hati. Saya selalu bingung dengan cara menolak tawaran pesta disini. karena saya tumbuh dalam didikan konservatif, pesta adalah kata yang agak susah saya definisikan selain pesta perkawinan di kampung yang biasanya diramaikan dengan elekton dan kepulan asap rokok bapak-bapak tua berjas dan bersarung sembari bercerita tentang panen atau kehebatan masa mudanya dulu.

‘Sial, mana kunciku?’ sungut dalam hati. Rasanya tadi saya selipkan di kantong dalam tas merahku bersisian rapi dengan paspor hijauku. Lalu, kemana ia?
Sambil mencari, tiba-tiba ada suara berat pria menegur dari balik punggungku. Saya menoleh lalu saling bertegur singkat.
‘Hallo!’
Seorang pria rumania. Saya tak punya alasan untuk mengingat namanya sejak pertemuan pertama kami pada malam jumat itu. Ia menyerangku dengan sejumlah pertanyaan yang menyudutkan saya sebagai muslim hanya karena menolak minum bir.

Beberapa langkah, Tiba-tiba ia menoleh, lalu menyodorkan kunci.
‘Kamu mencari ini?’
Di tangannya tergantung lemah sebuah kunci dengan nomor 005.

Waktu seolah berhenti. Saya selalu berusaha menghindari pria itu karena  kesal dengan kalimat-kalimatnya yang tak bersekolah. Lalu, bagaimana takdir mempertemukan kami disini?

‘Malam ini saya menunggumu di Keller’.
Kunci beralih kepadaku dengan iringan kalimat itu.
‘Jangan lupa datang, kamu masih berhutang terima kasih kepadaku’.

Setidaknya, ia mengajariku dengan kepahitan ada kesembuhan setelah menelannya, layaknya obat.
Meski kami tak saling merindu sebagai sahabat, namanya pun tak saya tahu, tapi ia menelisik keyakinanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyadarkan bahwa selama ini banyak ibadah yang saya lakukan tak lebih dari sekedar ritual tapi tak pernah mencari tahu maknanya.
Seperti halnya ketika ia menanyaiku, mengapa saya tak minum alkohol.

Palu, 16 Februari 2016.

Säm

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s