14 Jam 50 Menit

img_0504

Panggilan boarding untuk penumpang Turkish Airlines terdengar di pengeras suara terminal 2 internasional  bandara Soekarno Hatta Jakarta. Suasana tegang masih terasa setelah beberapa saat yang lalu pihak maskapai menginformasikan kepada kami bahwa penerbangan tertunda sampai pada batas waktu yang tidak ditentukan. Rasanya masih terngiang-ngiang informasi dari berita di Televisi tentang kondisi Turki yang sedang mengalami pergolakan politik terkait dengan insiden kudeta terhadap presiden Erdogan.  Saya tidak begitu tahu bagaimana latar belakang dan informasi lengkap mengenai hal tersebut, namun yang jelas kepanikan telah pelan-pelan menjalar di dalam diriku.

Seharusnya kami terbang pada pukul 20.30 malam,hari sabtu tanggal 16 Juli 2016. sejak siang saya telah berada di bandara Soekarno Hatta. Saya mengambil penerbangan pagi dari Makassar menuju Jakarta meskipun saya tahu bahwa penerbangan kami ke Jerman dengan transit Istanbul baru akan dilakukan pada pukul 20.30 malam.  Saya sengaja memilih penerbangan pagi biar saya punya waktu untuk sedikit bersantai di bandara Soekarno Hatta tanpa harus terburu-buru. Saya telah mengirim pesan via Whatsapp ke mba Vana mengenai janji pertemuan kita di bandara sebelum berangkat ke Jerman sejak pesawat yang saya tumpangi dari makassar mendarat dengan sempurna di bandara Jakarta. Mba Vana sebagai perwakilan dari Goethe Institut Indonesia akan mendampingi kami sampai kami berangkat. Pukul 15.00 akhirnya saya dan mba Vana pun bertemu dan kami memutuskan untuk duduk santai di sebuah cafe di bandara sambil menunggu Alya dan Lia. Keduanya adalah pemenang Olimpiade Nasional Bahasa Jerman yang dilaksanakan di Jakarta pada awal Januari 2016 lalu dan secara mutlak mereka akan  mewakili Indonesia pada kegiatan Olimpiade Internasional Bahasa Jerman 2016 yang akan dilaksanakan di Berlin, dan itulah tujuan kami berangkat ke Jerman.

Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan mba Vana selama kurang lebih sejam akhirnya mereka datang. Alya dan Lia, keduanya datang dengan diantar orang tua masing masing. Kami lalu bersalaman sambil memperkenalkan diri masing masing, mba Vana mengajak mereka bergabung bersama kami. Obrolan kami pun melanglang buana dari satu topik ke topik yang lain sembari menunggu jadwal check in yang baru boleh dilakukan pada pukul 18.30 malam. Setelah shalat magrib, akhirnya waktu check in pun tiba, kami lalu saling berpamitan. Antriannya cukup panjang, sebagian besar dari mereka yang berada di antrian adalah orang asing. Giliran kami pun tiba sampai akhirnya kami menyadari bahwa penerbangan kami delay dan baru akan diperkirakan terbang pada esok pagi. Mereka menawarkan penerbangan alternatif kepada kami jika memang tetap ingin terbang sesuai jadwal. Sebagai guru pendamping, ini bukan wewenang saya untuk menentukan tetapi pihak Goethe Institut Indonesia. Sialnya, baterai hape saya mati sehingga tidak bisa menghubungi Frau Elia, pihak Goethe yang bertanggung jawab atas pemesanan tiket kami. Untungnya Alya dan Lia masih memiliki daya baterai sehingga akhirnya kabar delay sampai kepada mereka. kami diminta untuk tetap mengikuti jadwal penerbangan sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh Turkish Airline. Konsekuensinya adalah kami harus menginap semalam di sebuah hotel yang telah ditunjuk oleh pihak Turkish.

Pukul 03.00 menjelang subuh, kami lalu berkumpul di lobby hotel Swiss bell in bersama dengan penumpang Turkish lainnya. perasaan cemas campur aduk dalam hati menunggu bagaimana akhir dari ini. Di pagi buta ini, saya dan mereka berdua harus rela berdesak desakan di sebuah bus yang akan mengantar kami ke bandara. Boarding pass akhirnya berhasil kami pegang, namun kata lega masih jauh dari hati dan pikiran saya.
Pukul 06.00 Pagi, akhirnya panggilan boarding mengudara. Kami saling beriringan menuju badan pesawat yang telah menunggu disana. Rasa cemas telah menguap sedikit demi sedikit, kami lalu duduk dengan nyaman di atas kursi kami masing masing. Suasana kabin pesawat pun mulai ramai dengan aktifitas pramugari yang hilir mudik menawarkan bantuan.

Pukul 07.15 pesawat kami mulai berjalan dengan pelan kemudian berlari kencang, sampai akhirnya lepas landas dengan sempurna. Kami mengudara menuju Jerman.
14 Jam 50 Menit!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s