Berlin, Cinta Pada Pandangan Pertama

img_0526

Roda pesawat berdecit bergesekan dengan aspal seiring dengan pendaratan yang mulus di bandara Tegel Berlin. Rasanya seperti baru muncul di permukaan air setelah berjam jam menyelam, lega!

Gerimis tipis menyambut kami. Meski lelah setelah melewati perjalanan panjang Jakarta-Istanbul-Berlin, namun lelah tak terasa lagi setelah kami bertemu dengan panitia IDO 2016 (Internationale Deutscholympiade) yang menjemput kami. Saya membuka obrolan setelah saling bersalaman. saya meminta maaf atas keterlambatan kedatangan kami dari jadwal seharusnya karena sebuah insiden di Turki. Ternyata, bukan hanya kami yang datang terlambat, namun termasuk Itali, Yunani, India, dan beberapa negara lainnya. setelah semua peserta dan guru pendamping terkumpul, kami lalu berjalan menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju Jugendherberge Ostkreuz, pusat kegiatan.

Setelah memastikan Lia dan Alya duduk nyaman di salah satu kursi bus, saya pun lalu duduk di sebuah kursi kosong di sudut belakang. saya ingin sendiri menikmati momen ini tanpa obrolan begitupun dengan satu orang yang duduk tak jauh dari kursiku. kami hanya saling melempar senyum lalu sibuk dengan khayalan masing masing. Hujan telah turun membasahi kaca  sementara bus terus melaju menyusuri jalanan Berlin. Saya telah lama memendam rasa terhadap kota ini dan hari ini saya benar benar berada disini. Rezeki memang hal paling misterius yang menjadi bagian cerita perjalanan manusia. Jika dua bulan lalu ia masih angan angan yang menggantung di atas kepala, maka hari ini ia telah nyata.

Lamunanku terhenti seiring dengan perhentian bus di depan sebuah gedung besar yang lebih mirip sebuah kastil dengan dominasi warna coklat. Rasanya seperti de javu, Hogwarts!
Panitia memberikan pengarahan singkat di depan pintu utama sebelum kami memasuki gedung untuk mendaftar dan check in. Melewati pintu utama, ada sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi menuju lobi. Disana telah ada dua meja untuk registrasi masing masing untuk guru pendamping dan peserta. Tak perlu antri lama, akhirnya giliran saya tiba. Setelah basa basi tentang asal dan bagaimana perjalananku, panitia lalu membagikan saya satu amplop yang berisi uang saku selama dua minggu di Berlin, tiket untuk seluruh jalur transportasi di Berlin, kartu tanda pengenal, tas yang berisi jadwal kegiatan, satu botol air minum serta kunci kamar.

210, itu nomor kamarku. Tak susah untuk menemukannya karena ia terletak di ujung lorong dekat tangga darurat. Sebuah ruangan besar yang berisi 4 kamar tidur dengan masing masing kasur busa empuk. Satu yang bertingkat dan dua tempat tidur biasa yang saling membelakangi. Saya memilih tempat tidur yang berhadapan dengan jendela besar dengan warna dominan putih. setelah merapikan barang sekedarnya, saya tak mampu melawan godaan kasur untuk  rebahan. Ah, rasanya begitu menyenangkan bisa meluruskan badan setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan.

Tiba-tiba pintu terbuka dari arah luar muncul seorang pria berkaca mata. Ia ramah dengan senyum ia mengulurkan tangan. saya menyambutnya lalu mengenalkan diri. Ia bernama Napoleon dan berkebangsaan denmark. Obrolan kami terhenti karena rasa lapar, saya belum makan malam. Ia mengajakku untuk mengecek dapur apakah masih ada makanan mengingat waktu makan malam telah selesai yang hanya sampai jam 8 malam.
Syukur, ternyata masih ada sisa makanan. Meski hanya memakan roti, marmelade dan mentega, cukup untuk menunda lapar sampai besok pagi.

Mataku benar benar tersisa 3 watt, saya ngantuk dan capek. sebelum tidur, saya mengecek jadwal shalat isya di sebuah aplikasi yang telah kuinstal di hapeku sebelum saya berangkat ke Jerman. Isya jatuh pada pukul 02.45.
Napoleon telah tidur. Dadanya naik turun teratur. Saya masih terjaga, meski terasa begitu capek, namun mataku belum mau terpejam. Rasanya begitu terasing, suara kereta yang lewat dekat jendela tiap beberapa menit memecah kesunyian. Akhirnya saya terlelap beberapa jam kemudian setelah bolak balik ganti posisi di tempat tidur. Saya terbangun pada pukul 02.00. 45 menit lagi sebelum isya.
Entah kenapa, namun malam ini terasa begitu lama, terasa seperti ada dua malam dalam satu hari. Saya bangkit lalu mengintip jalanan yang hanya sesekali dilewati mobil dari balik gorden. Antara rasa masih  tidak percaya, capek namun juga tidak bisa tidur tercampur menjadi satu.

Berlin, akhirnya kita benar benar ketemu.

Catatan:
Beberapa tahun sebelum berangkat ke Berlin, saya mengikuti kegiatan DfU di Goethe Institut Jakarta bersama dengan guru bahasa Jerman dari beberapa kota di Indonesia. Iseng, kami berfoto di sebuah poster kota Berlin. sambil berkelakar, bahwa kami bertiga akan mengunjungi Berlin suatu hari.
Dan, hari ini,kami bertiga benar benar telah mewujudkan kalimat itu.

Jangan lelah bermimpi!

 

 

 

Iklan