Palu 1

Palu

Belum pernah saya dengar nama kota ini sebelumnya. Bahkan saya tak tahu apa-apa soal kota ini.

Apa yang menarik dari kota ini?

Tanyaku di suatu siang bersama dengan teman se-KKN yang berasal dari Palu.

‘Ira, cerita dulue tentang Palu’.

Indah! Begitu jawabnya. Simpel tapi memberikan kesan mendalam buat saya sampai kemudian saya memutuskan untuk mendaftar CPNS di kota itu pada akhir tahun 2009.

Awal Januari 2010.

Ira mengirimkan kabar gembira, saya lulus tes CPNS disana. Senang sekaligus was-was. Apakah saya siap merantau?

Ibuku tak keberatan. Anak laki-laki bugis memang memiliki gen perantau. Pergilah! Begitu ibuku melepasku untuk melangkahkan kaki ke tanah Tadulako mencari rezeki yang halal.

Keluarga Ira menjemputku di bandara. Untuk pertama kali saya pergi jauh namun tidak merasa terasing dengan sambutan dan keramahtamahan keluarga ini.

Birunya langit dan panorama gunung pun seolah menyambutku. Saya suka kota ini!

Iklan

Mile 22: 5 Reasons why you should watch this Movie!

1. Bang @iko.uwais ini alasan utama kenapa saya bela belain nonton film ini di premier. Karena berkarir dan mengenalkan pencak silat sebagai martial art baru di hollywood itu gak gampang. Bahkan salah satu cast menyebutnya sebagai ‘new jackie chan’. Proud! 

2. Story line film ini pada dasarnya sederhana namun sudut pandang penceritaannya yang sedikit rumit menjadi asik untuk diikuti ditambah dengan adegan kekacauan yang terjadi di jalanan Indocarr city antara geng jimmy yang menghalangi perjalanan geng Silva untuk mengantarkan Li noor ke bandara  cukup memanjakan mata. 

3. Dialog bahasa Indonesia antara Li Noor, alice dan suara suara background penjahat ketika adegan kejar kejaran di apartemen itu bikin bangga. Lain aja gitu rasanya nonton film hollywood tapi ada selipan bahasa Indonesia. 😉

4. Martial art (pencak silat) ini harusnya dapat standing ovation khususnya untuk bang Iko. Walaupun saya berharap lebih brutal dan adegannya lebih banyak, tapi ini mungkin disimpan untuk sekuel nanti (semoga)

5. Dukungan untuk sineas Indo yang kerjasama dengan sineas luar. semoga ke depan semakin banyak kerjasama sineas antara Hollywood dan Indonesia.
Obviously saya beri 8/10 untuk Mile 22 (Actually for Iko!)

Mile-22-800x443

 

the boy who stole our heart

Bersamaan dengan adzan Isya, ia hadir menyapa kami dengan tangisnya yang keras melengking memenuhi ruang persalinan. Tawa lega kami menyambut tangisnya. Tak terasa ada dua tetes embun mengalir di mataku, ini hadiah terbaik dari Tuhan.
Ah, seperti ini rasanya menjadi seorang papa. Saya tak pernah mengerti kehadiran seorang papa tapi hari ini Tuhan menebusnya dengan memberiku kesempatan untuk merasakan menjadi bapak dari seorang anak yang manis. Tak ada hal yang lebih dari itu.

Ia kuberi nama Al Awn Pasinringi.
Al Awn memiliki catatan sejarah di masa Rasulullah SAW. Adalah seorang sahabat yang saat itu ingin ikut berperang membela agama di perang badar, namun ia tak memiliki pedang. Karena keinginannya yang begitu kuat, akhirnya Rasulullah mengabulkan keinginan sang pria dengan memberinya sebuah kayu biasa yang kemudian berubah menjadi pedang. Filosofi ini saya harapkan pada anak ini, bahwa meski ia terlahir sebagai ‘kayu biasa’ namun ia mampu menjadi ‘pedang’ bagi keluarga, agama dan bangsa. Al Awn secara arti juga bermakna suka cita. Sementara Pasinringi adalah nama bapakku. Ia saya wariskan nama kakeknya sebagai pengingat akan leluhurnya, jika kelak ia telah melangkah jauh pergi dari rumah ia tetap mengingat asal usulnya.

Hidup kami berubah sejak itu.
saya tergila gila pada senyumnya dan khawatir berlebihan pada tangisnya. kehidupan kami berputar pada tentangnya. Sang pencuri hati.

Kini, ia hampir genap 2 tahun.
Ia bertumbuh menjadi anak lelaki yang mewarnai hidup kami yang sederhana dengan senyumnya yang manis.
Doa-doa terbaik kami akan  tetap tercurah padanya semoga kelak ia menjadi lelaki dewasa yang baik hati, memegang tuntunan Tuhan pada setiap langkahnya, menghargai dirinya dan manusia lain sebagai manusia bukan karena ia siapa, dan banyak lagi doa-doa  padanya yang hanya kami, sajadah, dan Tuhan yang tahu.

Terima kasih, Schatz. love is you!

P.S

Menulis cerita ini tak semudah saya menulis cerita lainnya, entah kenapa saya selalu kehilangan kata-kata tiap kali akan menulis cerita tentangnya.
Benar cinta itu rumit, ia tak mampu dideskripsikan dengan kata kata karena ia kaya di rasa.

 

der neue Papa

Nyaris tiap hari saya mengunjungi toko ini. saya punya banyak alasan kenapa, selain karena etalase toko yang dihiasi oleh boneka kerajinan kayu beraneka bentuk, ada satu hal yang sangat menarik yaitu sebuah lederhosen mini untuk bayi laki-laki.

Istriku tengah mengandung anak pertama kami. kata dokter laki-laki dan akan diperkirakan lahir pada bulan september. sebagai calon ayah baru, ada rasa cemas yang menggelora tiap kali memikirkan akan prosesi melahirkan dan bagaimana merawat bayi kami nantinya. Saya kadang kadang dilanda kecemasan yang hebat akan berbagai pertanyaan tentang menjadi bapak.

Saya tak begitu mengenal sosok bapak. Seminggu masuk SD, ia meninggalkan kami untuk selama-lamanya secara mendadak. Sejak itu, duniaku berputar diantara mama dan dua saudara perempuanku. Tiap kali ditanya soal bapak, saya tak mampu untuk memberi jawaban, bahkan mengingat wajahnya pun tak bisa. Meski tak mengenal definisi bapak, namun saya bercita-cita ingin menjadi seorang bapak yang baik untuk anakku kelak.

Hari ini, saya kembali lagi ke toko itu, memastikan bahwa anakku nanti akan cocok memakainya. Seperti biasanya, saya tinggalkan toko itu dengan melihat kembali ke Lederhosen mini itu, seperti mengucapkan kata perpisahan dan besok akan kutemui lagi.

Sore ini, saya akan ke toko itu lagi untuk membeli baju yang sudah kutaksir sejak lama. Lepas materi Ibu Barbara, saya buru-buru tinggalkan kelas karena tak sabar ingin segera membelinya. Di koridor dekat tangga ke lantai dasar, saya ketemu Housen, teman satu flatku. Kami kadang juga menghabiskan waktu berjalan bersama-sama di kawasan Paradeplatz, tapi tidak hari ini. Saya hanya tersenyum sekilas lalu berlalu dengan terburu-buru.

Kecewa.
rasanya seperti tertimpa sebuah benda besar.
Lederhosen mini itu tak lagi ada disana. Jika kemarin saya masih melihatnya tergantung dengan manis, hari ini telah terganti dengan baju lain. telah kupastikan secara berulang-ulang, namun barangnya telah laku, kata sang penjaga toko.

Well, My dear, mungkin saya mengecewakanmu. Tapi Ini janjiku, Nanti jika kamu sudah lahir ke dunia ini, papa akan menemanimu ke negeri indah ini. Mengenalkanmu pada sahabat-sahabat terbaik yang saya miliki disini.

 

 

A tribute To Joachim Gὕnther

Saya mengenalnya sejak 6 tahun silam  lewat sebuah website untuk belajar bahasa asing yang kemudian berbuntut persahabatan indah beda usia, beda negara, beda agama.

Joachim, seorang pria paruh baya berumur 54 tahun. Terlahir di Jerman tepatnya di negara bagian Baden Wuerttemberg, Ravensburg. Ia ramah dengan tawanya yang serak akibat operasi pita suara yang pernah ia jalani ketika ia masih muda. Cerita itu ia sampaikan pada suatu sore ketika saya mengunjunginya di Ravensburg, tanpa beban seolah operasi itu hanya hal biasa buat dia. Dia berani! Saya baru tahu belakangan dari istrinya kalau Joachim ternyata mengidap beberapa penyakit kronis namun dia bawa santai dan dengan tawanya yang tetap riang.

Siang dua hari yang lalu, saya mengecek email secara rutin. Beberapa hari ini saya selalu teringat dia, biasanya dalam sebulan pasti ada saja emailnya namun sejak kembali dari Jerman kami hanya dua kali saling berkirim email. yang terakhir adalah email yang kukirim ketika anakku lahir. Ia pun menjawab emailku dengan singkat, tak seperti biasanya namun tetap dengan selipan humor khas Joachim.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada satu email dengan pengirim yang asing. Daniela. Saya tak mengenal nama ini, namun hatiku tiba-tiba bergetar aneh. Saya buka emailnya dan saya baca pelan-pelan.
Menit berikutnya, mataku berembun. cukup panjang ia menuliskan kondisi Jaochim sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya. Pantas saja ia tak pernah mengirimiku email karena ia telah dirawat sekian lama di rumah sakit tak lama setelah kukembali dari Jerman.  Potongan-potongan kenangan berkelebat akan kebersamaan saya bersama dengan keluarganya selama 3 hari di Weingarten dan di Ravensburg. Rasanya masih seperti kemarin, ia mengirimiku pesan singkat di Skype ketika saya baru tiba di Berlin.
“kali ini kamu harus mengunjungiku di Ravensburg! ” tulisanya singkat. Saya pun menjawabnya sambil berkelakar, bahwa saya bisa mengatur jadwal ke Ravensburg jika saja kegiatan di Munich tidak padat dan ia mau bayar tiket keretaku.
Selama di Berlin pun, kami hanya berkomunikasi sekali itu lalu ia menghilang tak ada kabar sampai kemudian saya pindah ke Munich untuk tinggal selama 4 minggu.

Daniela adalah putri dari sang mendiang. Ia mengambil inisiatif untuk mengabari kepergian Joachim pada seluruh kontak di emailnya. persis seperti ayahnya, penuh dengan inisiatif.

Kamis malam minggu pertama di Munich, dia mengirimiku pesan singkat kalau dia akan menjemputku pada  jumat sore untuk berangkat bersama-sama ke Weingarten. Dilematis. 3 janji datang bersamaan. Antara mengunjungi Kastil Neuschwanstein bersama dengan kawan-kawan di Goethe Institut, bertemu dengan teman yang akan mengambil barang titipannya, atau ke Weingarten bersama dengan Joachim. Tak ada pilihan, dia memaksa. Bukan kali pertama kami janjian, tahun 2013 silam dia pun mengundangku untuk mengunjunginya namun kala itu waktu belum mengizinkan. Saya harus memenuhinya kali ini.

Tepat seperti yang dia janjikan. Setengah 6 sore ia berdiri di depan WG yang kutempati bersama dengan seorang rekannya yang juga akan berangkat ke Weingarten. Kami bertemu untuk pertama kali setelah berteman secara online. Ini yang saya suka dari orang Jerman, loyalitas. Hujan deras mengiringi perjalanan dua jam kami dari Munich ke Weingarten. Lewat senja kami sampai di sebuah restoran di Weingarten. Dua Perempuan paruh baya pun telah menunggu disana. Setelah saling memperkenalkan diri, Salah satunya ada Rosemarie, istri Joachim.
Malam itu, saya tidak merasa seperti seorang anak hilang yang jauh dari induknya bahkan terasa seperti di tengah-tengah keluarga sendiri. Saya teringat mama yang senang menyambutku ketika datang setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Rosemarie menyarankan sebuah menu khas lokal namun lupa namanya.
Makan malam yang nyaris sempurna kecuali aksen bayerisch mereka. hehe..
sebuah pertemuan sekaligus menjadi akhir. Joachim telah tiada memang, namun kebaikan hatinya akan kekal di dalam ingatan dan di hati orang-orang yang mengenalnya.

Beristirahatlah dalam damai!

Terima kasih atas 3 hari yang indah di Weingarten dan persahabatan 6 tahun.

Malam Budaya di Berlin-Keliling Dunia dalam Satu Malam

Telah hampir genap sepekan,  saya, dua siswa dari Indonesia, peserta dan guru pendamping dari 63 negara lainnya dari total 64 negara termasuk Indonesia bersama-sama pada kegiatan Olimpiade internasional Bahasa Jerman 2016.
Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2000 di Kroasia, selanjutnya dilaksanakan sekali dalam dua tahun sampai pada tahun ini dilaksanakan di Berlin, di sebuah kota multi budaya.

Kegiatan ini tentu tak hanya tentang gramatik, penguasaan kosa kata dan wawasan tentang Jerman, tapi lebih dari itu. Sebuah kegiatan yang menggabungkan keragaman budaya, mempertemukan 4 benua, 64 negara, 125 siswa dengan  latar belakang etnis, agama, dan kebudayaan yang berbeda.
Selama dua minggu, tak hanya siswa yang berhasil menjalin persahabatan lintas negara namun saya juga sebagai guru pendamping. Sebuah hal yang amat berharga yang tentu tak dapat diukur dengan mata uang apapun.

Minggu pertama saya lewati dengan sejumlah presentasi, workshop, seminar, dan berbagai kegiatan edukatif lainnya. Namun, ada hal yang begitu menarik yang menutup pekan pertama kami pada kegiatan ini, adalah presentasi malam budaya atau dalam bahasa Jerman disebut Kulturabend. Setiap negara dibagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu secara acak. Indonesia tergabung ke dalam kelompok bersama dengan India, Vietnam, Thailand, Sri lanka, dan  Pakistan. Malam itu, kelompok mereka tampil begitu memukau dan berhasil mencuri perhatian kami dengan membawakan sejumlah tarian dari negara masing-masing dan dipuncaki oleh tarian bollywood yang begitu menghibur layaknya yang biasa kita saksikan pada film-film bolyywood.

img_0870

Berikut adalah foto Lia, peserta dari Indonesia dengan mengenakan kebaya dan batik sesaat sebelum malam budaya dimulai.

img_0833

Secara bergantian, kelompok-kelompok tampil. Ada yang membawakan lawakan, lagu nasional, presentasi pakaian nasional, makanan khas, puisi, dan tarian khas.
Malam itu, saya telah dibawa ‘berkeliling dunia’ dengan melihat presentasi mereka.
Mendengarkan puisi dari brazil dan Latvia, bernyanyi bersama dengan peserta dari Ceko, lalu kami dibawa untuk melihat lenskep negara Polandia dan Slowakia di dalam sebuah presentasi Power Point sambil diiringi permainan piano oleh peserta dari Polandia. Malam itu masih berlanjut dengan tarian khas Rusia, tarian berkelompok dari Afrika, dan lawakan dari Inggris.

img_0848img_0850img_0859img_0871img_0878img_0880img_0884

img_0835

Sebuah malam budaya yang benar benar kaya akan budaya. Tak henti henti saya berdecak kagum melihat mereka malam itu. Saya membayangkan jika saja pelajaran Bahasa Asing punya banyak tempat di sekolah sekolah di Indonesia, maka akan lebih banyak kesempatan yang terbuka pada siswa untuk melakukan hal yang sama dan melihat dunia luar agar suatu hari kelak, mereka dapat melangkah lebih jauh dengan berani, melintasi pagar budaya dan negara.

Undangan Goethe Institut untuk mengikuti kegiatan ini adalah sebuah hadiah yang luar biasa buat saya pribadi. Sebuah kesempatan langka untuk menjadi bagian dari kegiatan multi budaya ini, dan untuk itu saya menulis cerita ini kiranya dapat memberi manfaat dan menambah wawasan kita bersama akan pentingnya Bahasa.

Palu, 16 Nopember 2016

Berlin, Cinta Pada Pandangan Pertama

img_0526

Roda pesawat berdecit bergesekan dengan aspal seiring dengan pendaratan yang mulus di bandara Tegel Berlin. Rasanya seperti baru muncul di permukaan air setelah berjam jam menyelam, lega!

Gerimis tipis menyambut kami. Meski lelah setelah melewati perjalanan panjang Jakarta-Istanbul-Berlin, namun lelah tak terasa lagi setelah kami bertemu dengan panitia IDO 2016 (Internationale Deutscholympiade) yang menjemput kami. Saya membuka obrolan setelah saling bersalaman. saya meminta maaf atas keterlambatan kedatangan kami dari jadwal seharusnya karena sebuah insiden di Turki. Ternyata, bukan hanya kami yang datang terlambat, namun termasuk Itali, Yunani, India, dan beberapa negara lainnya. setelah semua peserta dan guru pendamping terkumpul, kami lalu berjalan menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju Jugendherberge Ostkreuz, pusat kegiatan.

Setelah memastikan Lia dan Alya duduk nyaman di salah satu kursi bus, saya pun lalu duduk di sebuah kursi kosong di sudut belakang. saya ingin sendiri menikmati momen ini tanpa obrolan begitupun dengan satu orang yang duduk tak jauh dari kursiku. kami hanya saling melempar senyum lalu sibuk dengan khayalan masing masing. Hujan telah turun membasahi kaca  sementara bus terus melaju menyusuri jalanan Berlin. Saya telah lama memendam rasa terhadap kota ini dan hari ini saya benar benar berada disini. Rezeki memang hal paling misterius yang menjadi bagian cerita perjalanan manusia. Jika dua bulan lalu ia masih angan angan yang menggantung di atas kepala, maka hari ini ia telah nyata.

Lamunanku terhenti seiring dengan perhentian bus di depan sebuah gedung besar yang lebih mirip sebuah kastil dengan dominasi warna coklat. Rasanya seperti de javu, Hogwarts!
Panitia memberikan pengarahan singkat di depan pintu utama sebelum kami memasuki gedung untuk mendaftar dan check in. Melewati pintu utama, ada sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi menuju lobi. Disana telah ada dua meja untuk registrasi masing masing untuk guru pendamping dan peserta. Tak perlu antri lama, akhirnya giliran saya tiba. Setelah basa basi tentang asal dan bagaimana perjalananku, panitia lalu membagikan saya satu amplop yang berisi uang saku selama dua minggu di Berlin, tiket untuk seluruh jalur transportasi di Berlin, kartu tanda pengenal, tas yang berisi jadwal kegiatan, satu botol air minum serta kunci kamar.

210, itu nomor kamarku. Tak susah untuk menemukannya karena ia terletak di ujung lorong dekat tangga darurat. Sebuah ruangan besar yang berisi 4 kamar tidur dengan masing masing kasur busa empuk. Satu yang bertingkat dan dua tempat tidur biasa yang saling membelakangi. Saya memilih tempat tidur yang berhadapan dengan jendela besar dengan warna dominan putih. setelah merapikan barang sekedarnya, saya tak mampu melawan godaan kasur untuk  rebahan. Ah, rasanya begitu menyenangkan bisa meluruskan badan setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan.

Tiba-tiba pintu terbuka dari arah luar muncul seorang pria berkaca mata. Ia ramah dengan senyum ia mengulurkan tangan. saya menyambutnya lalu mengenalkan diri. Ia bernama Napoleon dan berkebangsaan denmark. Obrolan kami terhenti karena rasa lapar, saya belum makan malam. Ia mengajakku untuk mengecek dapur apakah masih ada makanan mengingat waktu makan malam telah selesai yang hanya sampai jam 8 malam.
Syukur, ternyata masih ada sisa makanan. Meski hanya memakan roti, marmelade dan mentega, cukup untuk menunda lapar sampai besok pagi.

Mataku benar benar tersisa 3 watt, saya ngantuk dan capek. sebelum tidur, saya mengecek jadwal shalat isya di sebuah aplikasi yang telah kuinstal di hapeku sebelum saya berangkat ke Jerman. Isya jatuh pada pukul 02.45.
Napoleon telah tidur. Dadanya naik turun teratur. Saya masih terjaga, meski terasa begitu capek, namun mataku belum mau terpejam. Rasanya begitu terasing, suara kereta yang lewat dekat jendela tiap beberapa menit memecah kesunyian. Akhirnya saya terlelap beberapa jam kemudian setelah bolak balik ganti posisi di tempat tidur. Saya terbangun pada pukul 02.00. 45 menit lagi sebelum isya.
Entah kenapa, namun malam ini terasa begitu lama, terasa seperti ada dua malam dalam satu hari. Saya bangkit lalu mengintip jalanan yang hanya sesekali dilewati mobil dari balik gorden. Antara rasa masih  tidak percaya, capek namun juga tidak bisa tidur tercampur menjadi satu.

Berlin, akhirnya kita benar benar ketemu.

Catatan:
Beberapa tahun sebelum berangkat ke Berlin, saya mengikuti kegiatan DfU di Goethe Institut Jakarta bersama dengan guru bahasa Jerman dari beberapa kota di Indonesia. Iseng, kami berfoto di sebuah poster kota Berlin. sambil berkelakar, bahwa kami bertiga akan mengunjungi Berlin suatu hari.
Dan, hari ini,kami bertiga benar benar telah mewujudkan kalimat itu.

Jangan lelah bermimpi!

 

 

 

Minggu Pagi di Halaman Belakang Rumahku

sebulan ini banyak yang berbeda di halaman belakang rumahku, bukan hanya telah bersih dari ilalang setinggi lutut, tapi lahan kosong seluas 3×4 m itu sudah mulai ramai kembali jadi tempat nongkrong kucing kucing tak bertuan yang dulunya menghuni tumpukan kayu sisa. Mereka dulu memang senang bermain-main di halaman belakang rumahku sampai akhirnya saya jarang di rumah. saya kadang meninggalkan rumah seminggu atau dua minggu sehingga mereka pelan pelan mulai tersingkir oleh pertumbuhan rumput liar yang begitu pesat. mereka tak mampu menolerir karena ruang geraknya yang mulai sempit. Sisa makanan pun tak lagi ada yang secara terpaksa memaksa mereka untuk mencari sisa makanan tetangga.
sebulan ini, matahari selalu tersenyum di atas halaman belakang rumahku. entah sebabnya apa, tak ada alasan pasti namun kuduga karena rumahku dalam sebulan ini telah memiliki satu penghuni baru dan satu calon penghuni baru. Ia seorang wanita yng telah mengecat ruamhku menjadi warna merah jambu, semarak seperti malam lebaran atau malam tahun baru.
Sebulan ini, memang banyak yang berbeda. Dulu, tiap kali pulang cepat dari sekolah tempatku mengajar, rekan kerjaku suka memberikan pujian apatis, katanya pagarku akan ketawa jika pulang awal tanpa ada yang jemput di depan pintu. Kini, pagarku masih ketawa tiap kali pulang awal namun ada yang berdiri di depan pintu ikut tertawa lalu menyambut tanganku.
Halaman belakang rumahku kini tak lagi dikuasai ilalang setinggi lutut. yang ada disana sekarang adalah mawar merah yang dijaga oleh kumpulan kucing belang-belang. Saya tertawa melihat mereka pagi ini sembari menikmati secangkir susu.
Matahari tersenyum lagi!
Minggu, 11.23
Sam
DSC_0808

Die Fremde (Teil 3)

Dadaku bergemuruh sejak pagi. Ada yang menggantung di pelupuk mata yang kutahan sejak tadi. Kenapa perpisahan selalu terasa berat?

Kami adalah orang asing yang dipertemukan oleh Tuhan lewat jalinan takdir. Waktu yang mengeratkan kami menjadi sahabat dan waktu pula yang memutuskan jalinan itu.
Sebulan memang terlalu singkat buat kami. Masih banyak sudut jalan di kota ini yang belum kami telusuri, masih banyak cerita yang belum kami obrolkan, masih banyak hal lainnya yang  harus prematur karena tak diberi waktu untuk hadir.
Scheisse!! 

Hari ini kami sepakat untuk bertemu sepulang Abschiedparty, bahwa sore  ini akan kami habiskan bersama di sebuah kafe Itali. Kami akan pura-pura lupa kalau besok kami akan kembali menjadi orang asing, mereka akan kembali ke negeri asalnya dan saya akan kembali ke Indonesia.
Sehari, dua hari atau tiga hari  mungkin saja kami masih akan saling berkirim kabar, tapi bagaimana setelah seminggu berlalu?

Kami ngobrol dengan riang yang setengah hati sambil menikmati es krim itali, hari ini terasa hambar meskipun es krim itu mendapatkan label es krim terbaik. Saya tak mampu menipu diri, bahwa terlalu banyak hal indah sebulan ini, dan hari ini saya begitu sentimentil.

Hari ini kami akan mengobrol sampai lelah, seolah waktu tak rela kami lepas. Kami baru pulang ke WG pada pukul 20.30 seiring dengan senja yang tenggelam menyisakan rona merah di ujung sana dan bintang yang muncul satu persatu.

Koper telah dikepak.

Mungkin malam ini saya tidak bisa tidur nyenyak seperti pertama datang. Bukan karena jetleg atau perbedaan waktu Indonesia-Jerman, namun karena hatiku akan sibuk membungkus kenangan.

Dunia boleh tak kenal kita, tapi saya mengenal kalian sebagai orang asing terbaik.
Semoga waktu dan takdir bersepakat mempertemukan kita kembali.

Mannheim, Du hast mein Herz gestohlen!

Palu, 4 Maret 2016
SP