Kisah kedelapan

16 Desember 2015

Hari kedelapan #Ayomenulis2015

Mereka

Let me photograph you in this light
In case it is the last time
That we might be exactly like we were
Before we realized
We were sad of getting old
It made us restless
It was just like a movie
It was just like song

Adele, saya selalu suka lagu-lagunya. Seperti malam ini, When we were young membawaku jauh terseret pada pusaran makna lirik-liriknya. Mengenang atau dikenang. Saya tiba-tiba teringat mereka, bagaimana kabar mereka sekarang?

Saya menatap satu sudut dinding rumah yang penuh dengan foto -foto perjalananku selama ini. Saya menemukan foto mereka disana diantara foto-foto lain. Foto itu adalah foto angkatan kami diambil pada hari kedua terakhir sebelum kelas B1.2 berakhir. Kami semua tertawa di foto itu. kami terlihat begitu bahagia. Mungkin kami bahagia atas waktu dan kebersamaan yang telah dilewati. Mungkin juga kami bahagia atas kenangan yang kita buat sama-sama, atau mungkin kami bahagia atas pertengkaran dan perdebatan yang kami lakukan akan dikenang dengan sebuah senyuman.

3 tahun lalu.

saya datang pagi-pagi sekali. Hari ini adalah adalah hari pertamaku di kelas B1.2. Saya begitu bersemangat untuk bertemu dengan teman-teman baru hari ini. Saya meletakkan tas merahku di salah satu meja. Hari ini sangat dingin, 12 derajat. Saya  mengeratkan jaket coklat yang kupakai karena belum mampu menoleransi suhu dingin disini.
Tiba-tiba pintu terbuka, dari balik pintu muncullah 3 wajah asing. Satu laki-laki dan 2 perempuan. Mereka masih terlihat sangat muda, saya menaksir usia mereka dikisaran awal 20-an. Kami lalu bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing. Lelaki itu terlihat  gemulai dengan rambut panjang sebahunya. Tampilannya modis  dengan sentuhan K-Pop. Dia bernama Pom. Bahasa jermannya sedikit beraksen Asia dan masih belum bagus, saya menduga-duga asalnya, korea atau malaysia ternyata dia dari Thailand.
Meski saya kadang cukup sulit mengerti maksud kalimat-kalimat yang dia ucapkan namun dia gigih menjelaskannya berulang-ulang. Bahasa tubuhnya yang lucu sering jadi tertawaan di kelas, namun kelas akan jadi sunyi ketika pom sedang sakit atau berhalangan hadir di kelas.
Saya baru tahu setelah beberapa bulan meninggalkan Jerman kalau anak itu telah bertransformasi menjadi seorang wanita.
Dua lainnya bernama Fah dan Areeya. Fah berhijab sehingga dugaan saya awalnya adalah dia orang Indonesia, namun ternyata saya salah. Fah dan Areeya keduanya berasal dari Thailand. Mereka bertiga adalah penerima beasiswa dari pemerintah Thailand bekerjasama dengan kampus mereka di Thailand untuk melanjutkan studi di Jerman. Fah dan Areeya cukup pendiam di kelas. Asal usul Fah yang memiliki ibu berdarah Malaysia sehingga kadang  kami  menggunakan bahasa Indonesia atau melayu.  Tawanya  khas dengan suara serak. Dia terlihat nyaman dengan hijab yang dia kenakan membuatku bangga padanya karena berani tampil berbeda dan tetap mengikuti aturan agama di tengah  budaya asing.

Khalil. Perawakannya tinggi besar dengan bulu bulu halus di wajah yang sepertinya baru dicukur. Kaca mata menghiasi wajahnya. Kami telah berkenalan kemarin, Tommy yang mengenalkanku padanya. Kami tinggal di WG yang sama, namun dia di lantai 5 satu lantai dengan Leo. Khalil juga cukup pendiam, namun kemampuan bahasa Jermannya sudah baik. Berkebangsaan Tunisia namun dia berniat melanjutkan studi S2 di Jerman bahkan mungkin bekerja disini. Tak mengherankan karena ekonomi Jerman yang mapan sehingga banyak orang yang memilih untuk tinggal di Jerman dan meninggalkan kampung halamannya. Khalil adalah orang yang selalu menungguiku ketika akan berangkat shalat jumat. Dia pula yang mengenalkanku pada beberapa restoran halal di pusat kota Mannheim.
Meski anak itu senang tenggelam dalam diamnya, namun kesetiannya menungguiku di halte kereta tiap jumat sulit untuk dilupakan.

 

Matahari makin meninggi, kelas pun makin rame.
Gustavo, Noemi, Luz, Adrianna, dan Angela. Mereka datang bersamaan. Mereka terlihat akrab dan asyik ngobrol dengan bahasa Portugis. Wajah latin mereka tergambar jelas. Kami saling bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing. Noemi,Luz dan Gustavo, ketiganya sudah baik dalam berbahasa Jerman meski masih beraksen latin. Adrianna dan Angela masih nyaman dengan bahasa ibu mereka dan jarang sekali menggunakan bahasa Jerman.

Kelas pun jadi riuh karena pembicaraan kami, namun suasana sedikit mereda dengan kehadiran pria-pria bercambang, wajah-wajah khas timur tengah. Dari perkenalan kami, mereka bernama Tarik dan Aziz. keduanya adalah dokter, namun Tarik dari Libia dan Aziz dari Arab saudi. Bahasa Jerman mereka pun sudah baik.

Pintu kembali terbuka, masuklah seorang pria berkaca mata. Tommy, saya telah mengenalnya kemarin,kami sama-sama dari Indonesia. dibelakang Tommy, ada satu pria bermata sipit dan satu pria berwajah timur tengah.Si pria bermata sipit mengenalkan dirinya, namanya Yujiro dari Jepang. Pria yang satu bernama Wadiah. Kami belum sempat ngobrol panjang  karena guru sudah datang.

Fred, guru kami memperkenalkan dirinya.
Hari yang indah, untuk pertama kalinya saya bergabung dalam sebuah kelas yang begitu internasional.

senang berkenalan dengan kalian semua.
912633_4985895920503_540579358_n

 

 

Kisah ketujuh

15 Desember 2015

Hari ketujuh #Ayomenulis2015

Fred

Tingginya sedang dengan kulit putih yang pucat. Ia Tak memiliki banyak perbedaan dengan pria eropa lainnya selain tinggi badannya dan matanya yang sipit layaknya orang jepang namun dengan  bola mata hazel. Ia ramah dan sangat menyukai batik. Kami akrab sejak hari pertama saya di kelasnya. Saya tak begitu tahu latar belakang keluarganya dan merasa tak perlu tahu namun cerita yang beredar di kelas mengatakan kalau ayahnya adalah orang Jepang dan Ibunya adalah orang Jerman. Masuk akal sehingga tampilan fisiknya memang terlihat sedikit berbeda.

Batik.
Ia pecinta batik sejati. Saya tak tahu alasan persisnya kenapa ia begitu suka dengan batik, namun batik pemberian temannya dari Solo pernah ia ceritakan padaku sebagai kado terbaik. Mungkin itu salah satu alasan kami langsung akrab dari hari pertama bertemu di kelas karena saya hari itu memakai batik dengan corak yang ia anggap sangat eksotis.
saya merasa begitu tersanjung saat itu karena tidak terbiasa dengan komplimen yang langsung, saya terbiasa dengan budaya Indonesia yang senang berbasa basi, sedikit munafik dan kurang sportif memuji teman ketika sedang rapi, lulus ujian atau sedang mendapatkan keberuntungan atau apapun itu yang membutuhkan pujian.

Kemeja kotak kotak dan tas pinggang.
Selama setengah bulan ia mengajar di kelas kami, tak pernah ia lepas dari dua hal itu. Pembawaannya yang atraktif di kelas dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya membuat kami betah belajar di kelas. Saya banyak belajar dari beliau tentang pengelolaan kelas dan bagaimana ia menciptakan atmosfer kelas yang menyenangkan.
Ia mengajar dengan hati sehingga hubungan guru dan murid terasa tak berjarak meski respektifitas tetap kami jaga.

Seminggu sebelum sesi kelasnya berakhir, kami ditugaskan untuk mewawancara pendatang di Jerman. Tugas itu sebenarnya cukup mudah, saya pun telah melaksanakannya dengan baik. Dibantu oleh Amit, saya berhasil mewawancara dua pendatang, satu orang Turki bernama Alem dan seorang pria paruh baya berkebangsaan Tunisia namun telah berpuluh puluh tahun tinggal di Jerman.
Wawancara dengan tema migrasi itu telah berjalan dengan baik dan sukses. Sebelum presentasi di kelas kami diberikan waktu dua hari untuk mengolah hasil wawancara. Tugas itu harusnya dilakukan berkelompok dan saya dikelompokkan dengan satu teman bernama wadiah, dokter berkebangsaan arab Saudi. Harusnya semua lancar dan baik baik saja, namun kenyataannya tugas interview itu saya lakukan sendiri. Mungkin dia lagi sibuk, begitu pikirku. kami pun membuat janji untuk mengolah data hasil wawancara secara bersama sama di WG yang saya tempati. Dia datang sesuai waktu yang ditentukan, kami lalu berdiskusi menentukan akan seperti apa presentasi nanti. Namun karena saya tak bawa laptop dari Indonesia sehingga kami sepakat bahwa dia yang akan membuat power point.

Hari presentasi pun tiba.  Saya dilanda panik,wadiah datang terlambat hari itu. Power point pun belum dikerjakan pula. saya tak mampu membayangkan rasa kecewa guru kami jika proyek itu diabaikan apalagi saya sudah kerjakan satu langkah. saya paling benci dengan situasi seperti ini. saya mencoba berkomunikasi dengan wadiah namun dia terlihat acuh.
kami dapat giliran tampil ketiga presentasi setelah istirahat pertama. saya punya waktu sejam sebelum presentasi dan saya belum ada persiapan karena ulah wadiah. Saya akhirnya memberanikan diri untuk membicarakan masalah ini dengan fred, benar saja  ia kelihatan sedikit kecewa meski ia memberiku toleransi untuk menyelesaikan power pointku. Saya lalu berlari ke perpustakaan Goethe Institut di lantai 4, saya memanfaatkan waktu istirahat untuk menyelesaikan tugas itu. Entah anak itu kemana saya tak peduli lagi, yang penting tugas itu selesai, tekadku dalam hati. Slide demi slide saya selesaikan. Saya lirik jam di dinding, waktu istirahat tersisa 10 menit lagi.
Presentasi tentang Alem dari Turki dan seorang pria Tunisia berjalan baik, namun belum sempurna, kata Fred.
Kerjasama kelompok yang payah, namun fred tak perlu tahu semua itu. Cukuplah dimatanya kami mengerjakan bersama-sama.

Satu lagi rahasia kecil terbongkar. Dimanapun kamu berada bro wadiah, saya ucapkan terima kasih atas tes kepanikan yang kamu berikan pada hari itu.

961589_4895764107264_202001196_n

 

 

 

Kisah kelima

12 Desember 2015

Hari kelima #Ayomenulis2015

Pisang.

3 bulan sebelum berangkat ke Jerman saya jatuh sakit. Mungkin karena kecapean setelah mengurus beberapa kegiatan Bahasa Jerman di sekolah. Dokter menyarankan istirahat, namun permohonan beasiswa Sprachkurs telah disetujui dan sudah dipastikan akan dimulai pada bulan April 2013. Bimbang diantara 2 pilihan, akhirnya saya memantapkan diri untuk tetap berangkat memenuhi impian.

Hidup di Jerman memang tidak pernah mudah, awalnya. Saya membayangkan Alice yang terjatuh pada sebuah lubang di belakang rumahnya lalu ia menjadi kecil, kucing yang berbicara, dan ratu berkepala besar. Meski semua terasa terbalik, tetapi akhirnya hidupku lebih bermakna setelahnya. Pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik.

Menemukan makanan halal cukup sulit disini. Meskipun Kafe atau restoran turki cukup banyak, namun doner sudah mulai membuatku bosan sedangkan harga makanan halal lainnya cukup mahal. Saya pun telah  menerapi diri bahwa ketergantunganku pada beras harus dihentikan agar doner bisa menarik seleraku lagi, namun sialnya bayangan kelezatan nasi kuning yang dijual di depan SMAN 2 Palu selalu menghantui dan meneror ketenanganku.

Pisang. Tiap sore saya selalu menyempatkan diri ke Rewe (supermarket khas Jerman) untuk membeli pisang, susu, dan strawberry. Susu dan strawberry biasanya saya campur lalu saya makan saat sarapan. Pisang saya bawa ke ruang belajar Goethe Institut atau kemanapun saya pergi sebagai bekal. Empat buah pisang selalu ada di ranselku. Satu atau dua  saya makan saat istirahat pertama lalu sisanya saya simpan jika ada acara jalan jalan yang mungkin akan membuat saya  susah menemukan makanan halal atau yang cocok dengan lidah Indonesiaku. Alhasil, Ivan telah membaca kebiasaan ini karena melihat terlalu seringnya saya makan pisang.
“Die Banane” begitu dia mengejekku, bahkan panggilan ini telah menyebar dan hampir seluruh teman teman yang mengenal saya memanggilku dengan sebutan itu.

Pisang di Indonesia telah berbeda, bukan hanya bentuknya tetapi juga karena tak ada lagi seremonial yang mengiringi prosesi makan pisang itu.

Sampai ketemu lagi, kawan.

image.

Gambar diambil dari Google.

 

 

Kisah Keempat

11 Desember 2015

Hari keempat #Ayomenulis2015

Sofa hitam

Bentuknya sederhana namun ia selalu menawarkan kehangatan ketika cuaca diluar sedang membekukan suasana. Saya tak tau kapan persisnya semua itu dimulai, tapi yang pasti ia telah menjadi saksi persahabatan lintas negara. Mungkin telah bertahun tahun, ia disitu untuk mendengar cerita, tawa, kesedihan dan  pertengkaran.

Ivan dan amit benci duduk di atas sofa itu. Mereka menganggap bahwa sofa itu terlihat seperti seorang anak yang bersungut sungut dengan muka cemberut  sedang berdiri di sudut ruangan. Saya tentu  tak pernah setuju dengan pendapat mereka, mereka terlalu sentimentil. Menurutku, sofa itu malah terlihat anggun, elegan meski tampilannya sederhana. Saya paling suka duduk di atas sofa itu  ketika sore hari sambil menunggu magrib yang ternyata tiba setengah 10 malam, jauh lebih lambat dari waktu magrib di Indonesia. Leo selalu tertawa lebar ketika pertengkaran tentang sofa itu sudah dimulai. Ivan dan amit memang telah menjadi sekutu karena beberapa hal yang sama sama mereka senangi meski diantara kami mereka jugalah yang paling sering berdebat.

Sofa itu menyatukan kami pada suatu malam. Waktu itu kami sepakat mengambil beberapa foto untuk mengenang kebersamaan. Perdebatan tentu harus mengawali lalu diakhiri dengan tawa lebar kami. Duduklah kami berempat di atas sofa itu meski amit hanya kebagian pundak sofa. Sementara tommy di sudut kanan tak kebagian tempat sama sekali sehingga harus menduduki kursi kayu. Saya,  ivan dan leo yang duduk nyaman di tengah.

Tiga  tahun berlalu sejak kejadian malam itu. Ivan saat ini berprofesi sebagai dokter di Serbia, Tommy baru saja menikah dan sedang berbulan madu di Indonesia. Leo tak ada kabar sejak beberapa bulan terakhir, Amit total putus kontak dengan kami.

Sofa, apa kabarmu hari ini?

 

 

975856_4912799893148_1135636453_n.jpg

Kisah ketiga

DSC_5763.JPG10 Desember 2015
Hari ketiga #Ayomenulis2015
———–
Hans-Sachs-Ring 005.
Sebuah asrama mahasiswa yang dalam Bahasa Jerman disebut Wohnheimgemeinschaft (WG). Lantai 1 kamar 005.
Herzlich willkommen!
———–
Hari pertama disini terasa nyaris sempurna, kecuali hujan yang baru saja turun. Padahal setengah jam yang lalu saya telah menyusun rencana sempurna untuk berjalan jalan di sekitar Wasserturm (Tugu kota Mannheim).
Dari balik jendela saya mengamati  jalanan yang mulai basah, bunga liar disana pun mulai kuyup. Aroma roti dari toko seberang jalan mulai menggoda perutku yang memang belum terisi sejak pagi.
Sembari menunggu hujan reda, saya mengamati kamar yang kutinggali ini. Ukurannya kecil tapi perabotannya telah lengkap. Tempat tidur untuk satu orang lengkap dengan Kasur empuk, 2 bantal dan satu selimut. Didepannya ada sebuah lemari yang cukup besar. sekilas terlihat sama dengan lemari lainnya, tetapi ternyata fungsinya begitu berbeda. Lemari itu berfungsi sebagai westafel, disampingnya ada kompor elektrik, di laci bawah ada kulkas, di laci atas berisi piring serta peralatan masak.
Di pojok kanan dekat pintu ada lagi satu lemari tapi dengan ukuran yang berbeda. Lemari ini terbagi dua tingkat, yang di atas hanya seperti rak buku tanpa pintu gunanya untuk menyimpan botol air mineral, parfum atau peralatan lainnya. Di bagian bawah berguna untuk menyimpan pakaian karena dilengkapi dengan pintu. Tak ketinggalan satu meja tulis dilengkapi dengan lampu baca dan satu kursi. Di sudut belakangnya ada Heizung (Pemanas ruangan) yang terpasang di dinding.
Disinilah hidupku akan berputar selama sebulan kedepan. sambi melamun, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Pintu kubuka, seorang pria berkulit putih berkaca mata berdiri disana.
‘Hey, saya Tommy, saya orang Indonesia. kamu baru tiba ya?’
dia menyapaku. saya langsung menjabat tangannya sambil tertawa.
‘iya, Saya Sam, senang ketemu kamu, Tom’.
Tommy hari ini mengenalkanku pada toko turki yang menjual doener atau kebab. kami berdua menerobos gerimis tipis sore itu.
Doener, hari ini sempurna.

Kisah Kedua

9 Desember 2015
Hari kedua ‪#‎Ayomenulis201

Mata Biru
“Apa yang bisa saya bantu?”
saya tidak pernah lupa tatapannya siang itu ketika dia bertanya padaku. Mata birunya menatapku keheranan sekaligus prihatin. Antara bingung dan khawatir saya menjawab dengan malu-malu dan singkat.
‘saya tersesat’.

saya berutang terima kasih padanya.

Pukul 12.30 saya tiba di Mannheim dengan kereta ICE dari Frankfurt. Inilah kota itu. Jika sebelumnya saya hanya dapat melihatnya di Google, maka hari ini saya telah melihatnya secara langsung.
Hari ini adalah perjalanan terjauh sepanjang hidupku.
kutatap orang-orang yang lalu lalang di sekitarku, hatiku tersenyum.
Saya melangkah keluar dari stasiun utama Mannheim sambil menyandang ransel merahku.

‘Entschuldigung, koennten Sie mir helfen?’
tanyaku sedikit gugup, bisa Anda bantu saya?
‘was kann ich ihnen helfen?’
dia balik bertanya kepadaku sambil tersenyum. Dia ramah. bibirnya selalu tersenyum dengan mata biru yang indah.

saya lalu menjelaskan kondisiku, kemana arah tujuan saya dan harus naik kereta apa, dengan sedikit terbata bata, antara gugup dan kemampuan bahasa Jermanku yang entah kenapa tiba tiba mandet.
‘Hans-Sachs-Ring, saya tau alamat ini anak muda’, ujarnya.
syukurlah.
‘kereta yang mana yang harus saya naiki?’ tanyaku.
dia pun mengajakku ke halte sambil mengajakku melihat jadwal kereta yang tertera di papan jadwal. Saya melihat ke arah yang dia tunjuk, namun saya hanya melihat sederetan angka dan huruf yang dikombinasikan tertentu tetapi tak faham sama sekali maknanya.
Dia pun menjelaskan makna kode-kode tersebut tetapi semua terasa seperti dengungan yang entah maknanya apa. saya hilang di tengah kalimat kalimat cepat yang dia ucapkan. saya bingung.

‘Baik, ini tiket keretamu. kamu lihat kereta yang datang menuju kesini itu kan? nah, kamu naik kereta itu dan perhatikan halte Goethe Institut, kamu turun disitu!’
ujarnya. alhamdulillah saya mengerti deretan kalimat itu.
belum sempat saya ucapkan terima kasih, dia pun berlalu dengan cepat karena keretanya telah datang.

Sampai hari ini saya tidak pernah tahu namanya karena dialog singkat yang kami lakukan. dia tak memberiku waktu untuk bertanya tentang namanya.

Malaikat. Terima kasih.

Foto Syamsuri Pasinringi.