A tribute To Joachim Gὕnther

Saya mengenalnya sejak 6 tahun silam  lewat sebuah website untuk belajar bahasa asing yang kemudian berbuntut persahabatan indah beda usia, beda negara, beda agama.

Joachim, seorang pria paruh baya berumur 54 tahun. Terlahir di Jerman tepatnya di negara bagian Baden Wuerttemberg, Ravensburg. Ia ramah dengan tawanya yang serak akibat operasi pita suara yang pernah ia jalani ketika ia masih muda. Cerita itu ia sampaikan pada suatu sore ketika saya mengunjunginya di Ravensburg, tanpa beban seolah operasi itu hanya hal biasa buat dia. Dia berani! Saya baru tahu belakangan dari istrinya kalau Joachim ternyata mengidap beberapa penyakit kronis namun dia bawa santai dan dengan tawanya yang tetap riang.

Siang dua hari yang lalu, saya mengecek email secara rutin. Beberapa hari ini saya selalu teringat dia, biasanya dalam sebulan pasti ada saja emailnya namun sejak kembali dari Jerman kami hanya dua kali saling berkirim email. yang terakhir adalah email yang kukirim ketika anakku lahir. Ia pun menjawab emailku dengan singkat, tak seperti biasanya namun tetap dengan selipan humor khas Joachim.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada satu email dengan pengirim yang asing. Daniela. Saya tak mengenal nama ini, namun hatiku tiba-tiba bergetar aneh. Saya buka emailnya dan saya baca pelan-pelan.
Menit berikutnya, mataku berembun. cukup panjang ia menuliskan kondisi Jaochim sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya. Pantas saja ia tak pernah mengirimiku email karena ia telah dirawat sekian lama di rumah sakit tak lama setelah kukembali dari Jerman.  Potongan-potongan kenangan berkelebat akan kebersamaan saya bersama dengan keluarganya selama 3 hari di Weingarten dan di Ravensburg. Rasanya masih seperti kemarin, ia mengirimiku pesan singkat di Skype ketika saya baru tiba di Berlin.
“kali ini kamu harus mengunjungiku di Ravensburg! ” tulisanya singkat. Saya pun menjawabnya sambil berkelakar, bahwa saya bisa mengatur jadwal ke Ravensburg jika saja kegiatan di Munich tidak padat dan ia mau bayar tiket keretaku.
Selama di Berlin pun, kami hanya berkomunikasi sekali itu lalu ia menghilang tak ada kabar sampai kemudian saya pindah ke Munich untuk tinggal selama 4 minggu.

Daniela adalah putri dari sang mendiang. Ia mengambil inisiatif untuk mengabari kepergian Joachim pada seluruh kontak di emailnya. persis seperti ayahnya, penuh dengan inisiatif.

Kamis malam minggu pertama di Munich, dia mengirimiku pesan singkat kalau dia akan menjemputku pada  jumat sore untuk berangkat bersama-sama ke Weingarten. Dilematis. 3 janji datang bersamaan. Antara mengunjungi Kastil Neuschwanstein bersama dengan kawan-kawan di Goethe Institut, bertemu dengan teman yang akan mengambil barang titipannya, atau ke Weingarten bersama dengan Joachim. Tak ada pilihan, dia memaksa. Bukan kali pertama kami janjian, tahun 2013 silam dia pun mengundangku untuk mengunjunginya namun kala itu waktu belum mengizinkan. Saya harus memenuhinya kali ini.

Tepat seperti yang dia janjikan. Setengah 6 sore ia berdiri di depan WG yang kutempati bersama dengan seorang rekannya yang juga akan berangkat ke Weingarten. Kami bertemu untuk pertama kali setelah berteman secara online. Ini yang saya suka dari orang Jerman, loyalitas. Hujan deras mengiringi perjalanan dua jam kami dari Munich ke Weingarten. Lewat senja kami sampai di sebuah restoran di Weingarten. Dua Perempuan paruh baya pun telah menunggu disana. Setelah saling memperkenalkan diri, Salah satunya ada Rosemarie, istri Joachim.
Malam itu, saya tidak merasa seperti seorang anak hilang yang jauh dari induknya bahkan terasa seperti di tengah-tengah keluarga sendiri. Saya teringat mama yang senang menyambutku ketika datang setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah. Rosemarie menyarankan sebuah menu khas lokal namun lupa namanya.
Makan malam yang nyaris sempurna kecuali aksen bayerisch mereka. hehe..
sebuah pertemuan sekaligus menjadi akhir. Joachim telah tiada memang, namun kebaikan hatinya akan kekal di dalam ingatan dan di hati orang-orang yang mengenalnya.

Beristirahatlah dalam damai!

Terima kasih atas 3 hari yang indah di Weingarten dan persahabatan 6 tahun.

Iklan

Malam Budaya di Berlin-Keliling Dunia dalam Satu Malam

Telah hampir genap sepekan,  saya, dua siswa dari Indonesia, peserta dan guru pendamping dari 63 negara lainnya dari total 64 negara termasuk Indonesia bersama-sama pada kegiatan Olimpiade internasional Bahasa Jerman 2016.
Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2000 di Kroasia, selanjutnya dilaksanakan sekali dalam dua tahun sampai pada tahun ini dilaksanakan di Berlin, di sebuah kota multi budaya.

Kegiatan ini tentu tak hanya tentang gramatik, penguasaan kosa kata dan wawasan tentang Jerman, tapi lebih dari itu. Sebuah kegiatan yang menggabungkan keragaman budaya, mempertemukan 4 benua, 64 negara, 125 siswa dengan  latar belakang etnis, agama, dan kebudayaan yang berbeda.
Selama dua minggu, tak hanya siswa yang berhasil menjalin persahabatan lintas negara namun saya juga sebagai guru pendamping. Sebuah hal yang amat berharga yang tentu tak dapat diukur dengan mata uang apapun.

Minggu pertama saya lewati dengan sejumlah presentasi, workshop, seminar, dan berbagai kegiatan edukatif lainnya. Namun, ada hal yang begitu menarik yang menutup pekan pertama kami pada kegiatan ini, adalah presentasi malam budaya atau dalam bahasa Jerman disebut Kulturabend. Setiap negara dibagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu secara acak. Indonesia tergabung ke dalam kelompok bersama dengan India, Vietnam, Thailand, Sri lanka, dan  Pakistan. Malam itu, kelompok mereka tampil begitu memukau dan berhasil mencuri perhatian kami dengan membawakan sejumlah tarian dari negara masing-masing dan dipuncaki oleh tarian bollywood yang begitu menghibur layaknya yang biasa kita saksikan pada film-film bolyywood.

img_0870

Berikut adalah foto Lia, peserta dari Indonesia dengan mengenakan kebaya dan batik sesaat sebelum malam budaya dimulai.

img_0833

Secara bergantian, kelompok-kelompok tampil. Ada yang membawakan lawakan, lagu nasional, presentasi pakaian nasional, makanan khas, puisi, dan tarian khas.
Malam itu, saya telah dibawa ‘berkeliling dunia’ dengan melihat presentasi mereka.
Mendengarkan puisi dari brazil dan Latvia, bernyanyi bersama dengan peserta dari Ceko, lalu kami dibawa untuk melihat lenskep negara Polandia dan Slowakia di dalam sebuah presentasi Power Point sambil diiringi permainan piano oleh peserta dari Polandia. Malam itu masih berlanjut dengan tarian khas Rusia, tarian berkelompok dari Afrika, dan lawakan dari Inggris.

img_0848img_0850img_0859img_0871img_0878img_0880img_0884

img_0835

Sebuah malam budaya yang benar benar kaya akan budaya. Tak henti henti saya berdecak kagum melihat mereka malam itu. Saya membayangkan jika saja pelajaran Bahasa Asing punya banyak tempat di sekolah sekolah di Indonesia, maka akan lebih banyak kesempatan yang terbuka pada siswa untuk melakukan hal yang sama dan melihat dunia luar agar suatu hari kelak, mereka dapat melangkah lebih jauh dengan berani, melintasi pagar budaya dan negara.

Undangan Goethe Institut untuk mengikuti kegiatan ini adalah sebuah hadiah yang luar biasa buat saya pribadi. Sebuah kesempatan langka untuk menjadi bagian dari kegiatan multi budaya ini, dan untuk itu saya menulis cerita ini kiranya dapat memberi manfaat dan menambah wawasan kita bersama akan pentingnya Bahasa.

Palu, 16 Nopember 2016

Berlin, Cinta Pada Pandangan Pertama

img_0526

Roda pesawat berdecit bergesekan dengan aspal seiring dengan pendaratan yang mulus di bandara Tegel Berlin. Rasanya seperti baru muncul di permukaan air setelah berjam jam menyelam, lega!

Gerimis tipis menyambut kami. Meski lelah setelah melewati perjalanan panjang Jakarta-Istanbul-Berlin, namun lelah tak terasa lagi setelah kami bertemu dengan panitia IDO 2016 (Internationale Deutscholympiade) yang menjemput kami. Saya membuka obrolan setelah saling bersalaman. saya meminta maaf atas keterlambatan kedatangan kami dari jadwal seharusnya karena sebuah insiden di Turki. Ternyata, bukan hanya kami yang datang terlambat, namun termasuk Itali, Yunani, India, dan beberapa negara lainnya. setelah semua peserta dan guru pendamping terkumpul, kami lalu berjalan menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju Jugendherberge Ostkreuz, pusat kegiatan.

Setelah memastikan Lia dan Alya duduk nyaman di salah satu kursi bus, saya pun lalu duduk di sebuah kursi kosong di sudut belakang. saya ingin sendiri menikmati momen ini tanpa obrolan begitupun dengan satu orang yang duduk tak jauh dari kursiku. kami hanya saling melempar senyum lalu sibuk dengan khayalan masing masing. Hujan telah turun membasahi kaca  sementara bus terus melaju menyusuri jalanan Berlin. Saya telah lama memendam rasa terhadap kota ini dan hari ini saya benar benar berada disini. Rezeki memang hal paling misterius yang menjadi bagian cerita perjalanan manusia. Jika dua bulan lalu ia masih angan angan yang menggantung di atas kepala, maka hari ini ia telah nyata.

Lamunanku terhenti seiring dengan perhentian bus di depan sebuah gedung besar yang lebih mirip sebuah kastil dengan dominasi warna coklat. Rasanya seperti de javu, Hogwarts!
Panitia memberikan pengarahan singkat di depan pintu utama sebelum kami memasuki gedung untuk mendaftar dan check in. Melewati pintu utama, ada sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi menuju lobi. Disana telah ada dua meja untuk registrasi masing masing untuk guru pendamping dan peserta. Tak perlu antri lama, akhirnya giliran saya tiba. Setelah basa basi tentang asal dan bagaimana perjalananku, panitia lalu membagikan saya satu amplop yang berisi uang saku selama dua minggu di Berlin, tiket untuk seluruh jalur transportasi di Berlin, kartu tanda pengenal, tas yang berisi jadwal kegiatan, satu botol air minum serta kunci kamar.

210, itu nomor kamarku. Tak susah untuk menemukannya karena ia terletak di ujung lorong dekat tangga darurat. Sebuah ruangan besar yang berisi 4 kamar tidur dengan masing masing kasur busa empuk. Satu yang bertingkat dan dua tempat tidur biasa yang saling membelakangi. Saya memilih tempat tidur yang berhadapan dengan jendela besar dengan warna dominan putih. setelah merapikan barang sekedarnya, saya tak mampu melawan godaan kasur untuk  rebahan. Ah, rasanya begitu menyenangkan bisa meluruskan badan setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan.

Tiba-tiba pintu terbuka dari arah luar muncul seorang pria berkaca mata. Ia ramah dengan senyum ia mengulurkan tangan. saya menyambutnya lalu mengenalkan diri. Ia bernama Napoleon dan berkebangsaan denmark. Obrolan kami terhenti karena rasa lapar, saya belum makan malam. Ia mengajakku untuk mengecek dapur apakah masih ada makanan mengingat waktu makan malam telah selesai yang hanya sampai jam 8 malam.
Syukur, ternyata masih ada sisa makanan. Meski hanya memakan roti, marmelade dan mentega, cukup untuk menunda lapar sampai besok pagi.

Mataku benar benar tersisa 3 watt, saya ngantuk dan capek. sebelum tidur, saya mengecek jadwal shalat isya di sebuah aplikasi yang telah kuinstal di hapeku sebelum saya berangkat ke Jerman. Isya jatuh pada pukul 02.45.
Napoleon telah tidur. Dadanya naik turun teratur. Saya masih terjaga, meski terasa begitu capek, namun mataku belum mau terpejam. Rasanya begitu terasing, suara kereta yang lewat dekat jendela tiap beberapa menit memecah kesunyian. Akhirnya saya terlelap beberapa jam kemudian setelah bolak balik ganti posisi di tempat tidur. Saya terbangun pada pukul 02.00. 45 menit lagi sebelum isya.
Entah kenapa, namun malam ini terasa begitu lama, terasa seperti ada dua malam dalam satu hari. Saya bangkit lalu mengintip jalanan yang hanya sesekali dilewati mobil dari balik gorden. Antara rasa masih  tidak percaya, capek namun juga tidak bisa tidur tercampur menjadi satu.

Berlin, akhirnya kita benar benar ketemu.

Catatan:
Beberapa tahun sebelum berangkat ke Berlin, saya mengikuti kegiatan DfU di Goethe Institut Jakarta bersama dengan guru bahasa Jerman dari beberapa kota di Indonesia. Iseng, kami berfoto di sebuah poster kota Berlin. sambil berkelakar, bahwa kami bertiga akan mengunjungi Berlin suatu hari.
Dan, hari ini,kami bertiga benar benar telah mewujudkan kalimat itu.

Jangan lelah bermimpi!

 

 

 

Minggu Pagi di Halaman Belakang Rumahku

sebulan ini banyak yang berbeda di halaman belakang rumahku, bukan hanya telah bersih dari ilalang setinggi lutut, tapi lahan kosong seluas 3×4 m itu sudah mulai ramai kembali jadi tempat nongkrong kucing kucing tak bertuan yang dulunya menghuni tumpukan kayu sisa. Mereka dulu memang senang bermain-main di halaman belakang rumahku sampai akhirnya saya jarang di rumah. saya kadang meninggalkan rumah seminggu atau dua minggu sehingga mereka pelan pelan mulai tersingkir oleh pertumbuhan rumput liar yang begitu pesat. mereka tak mampu menolerir karena ruang geraknya yang mulai sempit. Sisa makanan pun tak lagi ada yang secara terpaksa memaksa mereka untuk mencari sisa makanan tetangga.
sebulan ini, matahari selalu tersenyum di atas halaman belakang rumahku. entah sebabnya apa, tak ada alasan pasti namun kuduga karena rumahku dalam sebulan ini telah memiliki satu penghuni baru dan satu calon penghuni baru. Ia seorang wanita yng telah mengecat ruamhku menjadi warna merah jambu, semarak seperti malam lebaran atau malam tahun baru.
Sebulan ini, memang banyak yang berbeda. Dulu, tiap kali pulang cepat dari sekolah tempatku mengajar, rekan kerjaku suka memberikan pujian apatis, katanya pagarku akan ketawa jika pulang awal tanpa ada yang jemput di depan pintu. Kini, pagarku masih ketawa tiap kali pulang awal namun ada yang berdiri di depan pintu ikut tertawa lalu menyambut tanganku.
Halaman belakang rumahku kini tak lagi dikuasai ilalang setinggi lutut. yang ada disana sekarang adalah mawar merah yang dijaga oleh kumpulan kucing belang-belang. Saya tertawa melihat mereka pagi ini sembari menikmati secangkir susu.
Matahari tersenyum lagi!
Minggu, 11.23
Sam
DSC_0808

Die Fremde (Teil 3)

Dadaku bergemuruh sejak pagi. Ada yang menggantung di pelupuk mata yang kutahan sejak tadi. Kenapa perpisahan selalu terasa berat?

Kami adalah orang asing yang dipertemukan oleh Tuhan lewat jalinan takdir. Waktu yang mengeratkan kami menjadi sahabat dan waktu pula yang memutuskan jalinan itu.
Sebulan memang terlalu singkat buat kami. Masih banyak sudut jalan di kota ini yang belum kami telusuri, masih banyak cerita yang belum kami obrolkan, masih banyak hal lainnya yang  harus prematur karena tak diberi waktu untuk hadir.
Scheisse!! 

Hari ini kami sepakat untuk bertemu sepulang Abschiedparty, bahwa sore  ini akan kami habiskan bersama di sebuah kafe Itali. Kami akan pura-pura lupa kalau besok kami akan kembali menjadi orang asing, mereka akan kembali ke negeri asalnya dan saya akan kembali ke Indonesia.
Sehari, dua hari atau tiga hari  mungkin saja kami masih akan saling berkirim kabar, tapi bagaimana setelah seminggu berlalu?

Kami ngobrol dengan riang yang setengah hati sambil menikmati es krim itali, hari ini terasa hambar meskipun es krim itu mendapatkan label es krim terbaik. Saya tak mampu menipu diri, bahwa terlalu banyak hal indah sebulan ini, dan hari ini saya begitu sentimentil.

Hari ini kami akan mengobrol sampai lelah, seolah waktu tak rela kami lepas. Kami baru pulang ke WG pada pukul 20.30 seiring dengan senja yang tenggelam menyisakan rona merah di ujung sana dan bintang yang muncul satu persatu.

Koper telah dikepak.

Mungkin malam ini saya tidak bisa tidur nyenyak seperti pertama datang. Bukan karena jetleg atau perbedaan waktu Indonesia-Jerman, namun karena hatiku akan sibuk membungkus kenangan.

Dunia boleh tak kenal kita, tapi saya mengenal kalian sebagai orang asing terbaik.
Semoga waktu dan takdir bersepakat mempertemukan kita kembali.

Mannheim, Du hast mein Herz gestohlen!

Palu, 4 Maret 2016
SP

 

Die Fremde (Teil 2)

Bagian kedua

“Malam ini ada pesta di Keller”, singkat temanku menyampaikan pada perjalanan pulang. Siang itu gerimis nakal mulai turun, rinainya pelan-pelan membasahi rambutku. Kami semua tergesa-gesa sehingga tak dapat mengobrol lama.
‘Malam ini?” tanyaku dalam hati. Saya selalu bingung dengan cara menolak tawaran pesta disini. karena saya tumbuh dalam didikan konservatif, pesta adalah kata yang agak susah saya definisikan selain pesta perkawinan di kampung yang biasanya diramaikan dengan elekton dan kepulan asap rokok bapak-bapak tua berjas dan bersarung sembari bercerita tentang panen atau kehebatan masa mudanya dulu.

‘Sial, mana kunciku?’ sungut dalam hati. Rasanya tadi saya selipkan di kantong dalam tas merahku bersisian rapi dengan paspor hijauku. Lalu, kemana ia?
Sambil mencari, tiba-tiba ada suara berat pria menegur dari balik punggungku. Saya menoleh lalu saling bertegur singkat.
‘Hallo!’
Seorang pria rumania. Saya tak punya alasan untuk mengingat namanya sejak pertemuan pertama kami pada malam jumat itu. Ia menyerangku dengan sejumlah pertanyaan yang menyudutkan saya sebagai muslim hanya karena menolak minum bir.

Beberapa langkah, Tiba-tiba ia menoleh, lalu menyodorkan kunci.
‘Kamu mencari ini?’
Di tangannya tergantung lemah sebuah kunci dengan nomor 005.

Waktu seolah berhenti. Saya selalu berusaha menghindari pria itu karena  kesal dengan kalimat-kalimatnya yang tak bersekolah. Lalu, bagaimana takdir mempertemukan kami disini?

‘Malam ini saya menunggumu di Keller’.
Kunci beralih kepadaku dengan iringan kalimat itu.
‘Jangan lupa datang, kamu masih berhutang terima kasih kepadaku’.

Setidaknya, ia mengajariku dengan kepahitan ada kesembuhan setelah menelannya, layaknya obat.
Meski kami tak saling merindu sebagai sahabat, namanya pun tak saya tahu, tapi ia menelisik keyakinanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyadarkan bahwa selama ini banyak ibadah yang saya lakukan tak lebih dari sekedar ritual tapi tak pernah mencari tahu maknanya.
Seperti halnya ketika ia menanyaiku, mengapa saya tak minum alkohol.

Palu, 16 Februari 2016.

Säm

 

 

 

 

Die Fremde

Bagian pertama

Ia seorang pianis, terbaik yang pernah kulihat bermain secara langsung.Meski kami tak begitu dekat, namun saya selalu menunggunya bermain piano di aula setiap selesai jam pelajaran. Ia orang Jepang dengan kemampuan bahasa asing yang sangat lemah. Tidak inggris, Jerman apalagi. Satu-satunya bantuan komunikasi kami adalah bahasa isyarat yang saya tak bisa bayangkan rancunya karena lebih banyak salah paham. karena itu saya lebih senang mendengarnya bermain piano dibanding mengobrol dengannya. Rasanya sulit saya mengerti motifnya ke Jerman, namun cukup ia dan Tuhan yang mengerti.

Mariko, akhirnya berhasil kutebak namanya dari kesalah pahaman yang kesekian kali.
sang pianis yang abstrak.

Palu, 14 Februari 16.

Säm

Kisah kesembilan

17 Desember 2015

Hari kesembilan #Ayomenulis2015

Koper 

Saya mulai khawatir. Saya dan Subhan telah menunggu di bagian bagasi ini dari 30 menit yang lalu. Satu persatu penumpang  telah menemukan koper mereka sementara kami masih celingukan mencari, dimana kiranya koper kami berada.
‘Tuhan, saya tak mampu membayangkan jika koper kami tercecer’
pintaku dalam hati.
Kami masih menunggu meski hatiku semakin tak tenang, Subhan juga sudah mulai panik.
‘Kak, bagaimana mi ini?’
Tanya ia kepadaku dalam logat makassar. Kujawab singkat.
‘Kita tunggumi saja dulu, 10 menit kalau nda datang kita cari bagian pengaduan’. Saya berusaha tenang meski hatiku ketar ketir, tanganku mulai basah karena cemas.
10 menit berlalu, bagian pengambilan bagasi benar-benar telah kosong kecuali 3 Penumpang yang masih tersisa termasuk kami. Saya dan Subhan saling bertatapan, rupanya ada seorang cewek bule yang juga mengalami hal yang sama.
Tetapi diantara semua kepanikan yang melanda kami, yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan bahasa Jerman kami yang tiba-tiba hilang.
‘Kak bertanyaki’.
Subhan sudah mulai merengek agar saya bertanya ke bagian pengaduan.
‘Ayo paeng,sama-samaki.’
jawabku mengajak dia agar mencari bagian pengaduan bersama-sama.
Saya balik bertanya ke dia.
‘Bagaimana bahasa Jermanmu, saya kok hilang ya, nda tau mau bilang apa’.
Tanyaku padanya masih dalam logat makassar.
Rupanya dia mengalami hal yang sama. kami lalu saling tertawa lebar. Beberapa orang yang lalu lalang di sekitar kami memperhatikan kami. pasti kami terlihat sangat udik. Untuk sesaat kami lupa bahwa kami sedang mengalami kesulitan. Tawa kami lalu mereda dan cemas itu datang lagi bahkan makin hebat.
Kami melihat ke kanan dan kiri, lorong-lorong panjang seolah tak berujung. Papan-papan penunjuk di atas kami seolah mengejek melecehkan kami yang sangat katro.
Tuhan, kok begini amat ya?
sungutku dalam hati.

Akhirnya kami berdiri di depan bagian pengaduan berkat bantuan seorang pria asing yang mungkin kasihan melihat kami. Sang petugas kemudian menyodorkan kami formulir untuk diisi. Ia menanyaiku mengenai ciri-ciri koper kami. Saya pun jelaskan dengan terbata-bata, bahasa Jermanku rasanya mandet di tenggorokan dan tak mampu terucap. Subhan tak kalah memprihatinkan kondisinya.
Saya lalu menjelaskannya dengan menggunakan bahasa inggris karena lelah berusaha untuk menggunakan bahasa Jerman namun belum juga berhasil. Mungkin kami shock karena kondisi yang kami alami dan ke-tak percayaan kalau kami benar-benar telah di Jerman. Antara girang, gugup, dan cemas semua tercampur jadi satu.

Setelah melewati proses yang cukup panjang akhirnya prosedur yang dibutuhkan agar koper kami bisa ditemukan telah selesai.
Kami sedikit lega karena si petugas mendapatkan konfirmasi dari maskapai Singapore Airline, pesawat yang kami gunakan dari Jakarta, ternyata barang kami ikut di pesawat Lufthansa karena kesalahan dari petugas bandara Soekarno Hatta ketika kami check in.
Si petugas meyakinkan kami  bahwa koper itu akan diantarkan ke alamat paling lambat 3 hari.
Saya dan subhan bernafas lega sambil berdoa, semoga saja besok koper kami sudah diantarkan.

Takdir berkata lain, 3 hari tanpa ganti pakaian adalah sebuah mimpi buruk dan mimpi buruk itu  terjadi padaku.

Frankfurt-Airport

Keterangan: Gambar diambil dari Google

 

 

Kisah keenam

13 Desember 2015

Hari keenam #Ayomenulis2015

Wifi

Jika di Indonesia saya selalu menunggu kedatangan hari minggu, lain halnya ketika di Jerman. Minggu terasa begitu sepi karena masing masing sibuk dengan urusannya.  Ivan biasanya menghabiskan hari minggunya dengan nongkrong seharian di kafe Tong-Pa depan WG sambil minum kopi dan marlboronya . Amit lain lagi, biasanya dia hanya sibuk belajar di kamar,sesekali keluar hanya untuk beli makanan lalu berhibernasi kembali di kamarnya. Leo yang masih cukup mudah ditemui meski juga kadang menghilang entah kemana.

Minggu bisa jadi menarik jika sedang ada program budaya. Kunjungan ke Heidelberg dan Istana Bruchsal semua dilakukan pada hari minggu. Namun, program budaya lebih sering dilakukan pada hari jumat atau sabtu sehingga minggu menjadi hari mati gaya dan tak tahu mau kerja apa. Jika seandainya isi dompet berlimpah, mau saja saya berkunjung ke kota kota lainnya. Berlin, Freiburg, Muenchen, Stuttgart atau Bonn telah saya catat sebelum berangkat ke Jerman sebagai daftar kota yang akan saya kunjungi, namun apa daya ‘Euro teuror’ istilah herr Fred jika membicarakan harga yang mahal. Tiket kereta mahal belum lagi kehawatiran akan kondisi badan yang belum total fit sehingga keinginan itu tak terpenuhi.

Tak ada wifi di WG. Jaringan internet hanya tersedia melalui kabel lan. Sayangnya saya tidak membawa laptop dari Indonesia jadi jaringan internet di WG tidak bisa saya gunakan. Bahkan kafe Tong -Pa  pun tak menyediakan wifi, kafe buat ngobrol bukan tempat main hape, begitu jawaban salah satu pelayan yang saya tanya soal ketersediaan wifi di kafe itu. Satu-satunya tempat yang saya tahu menyediakan wifi adalah Goethe Institut, tetapi pada hari minggu juga ditutup. Pernah suatu waktu, saya benar-benar kelimpungan di WG tak tahu mau kerja apa. Gerimis juga telah turun dari sejak pagi.  Karena sudah lelah berputar putar di WG, saya nekat ke Goethe Institut walaupun saya tahu ia pasti ditutup karena hari ini minggu. Mantel merahku melindungiku dari gerimis. saya aman dari basah namun dingin, tidak. Benar saja, pintu Goethe Institut terkunci. Disamping pintu utama  ada sebuah meja dan dua bangku panjang dari kayu yang terlihat cukup basah. Lelah sehabis berjalan karena jarak WG dan Goethe Institut yang cukup jauh, saya pun merelakan bagian belakang celanaku basah karena saya telah duduk di salah satu bangku panjang itu. Iseng, saya hidupkan wifi tabku untuk mencari jika ada sinyal wifi yang aktif disekitarku. Dugaanku benar, wifi Goethe Institut aktif. Bahagia itu benar benar sederhana. Selama satu setengah jam saya duduk sendiri di  bangku panjang itu,  menghibur diri dengan whatsapan dengan teman di Indonesia meski gigi gemerutuk menahan dingin. Hal yang tidak mereka ketahui ketika menanyakan kabarku saya katakan bahwa saya baik baik saja, padahal kenyataannya  saya menahan dingin demi wifi.

Salah satu momen emosional dan rahasia kecil yang baru saja terbongkar, bahkan teman-teman di WG tak pernah tahu hal ini.

Saat ini akses wifi dengan mudah saya dapatkan. Saya tak perlu menahan dingin atau berdiri depan pintu jika sewaktu waktu sinyal melemah dan harus berpindah posisi. Hari ini saya duduk nyaman di rumah menikmati wifi, tetapi saya rindu dengan momen itu.

IMG_20140623_192633

 

 

 

 

 

Kisah kelima

12 Desember 2015

Hari kelima #Ayomenulis2015

Pisang.

3 bulan sebelum berangkat ke Jerman saya jatuh sakit. Mungkin karena kecapean setelah mengurus beberapa kegiatan Bahasa Jerman di sekolah. Dokter menyarankan istirahat, namun permohonan beasiswa Sprachkurs telah disetujui dan sudah dipastikan akan dimulai pada bulan April 2013. Bimbang diantara 2 pilihan, akhirnya saya memantapkan diri untuk tetap berangkat memenuhi impian.

Hidup di Jerman memang tidak pernah mudah, awalnya. Saya membayangkan Alice yang terjatuh pada sebuah lubang di belakang rumahnya lalu ia menjadi kecil, kucing yang berbicara, dan ratu berkepala besar. Meski semua terasa terbalik, tetapi akhirnya hidupku lebih bermakna setelahnya. Pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik.

Menemukan makanan halal cukup sulit disini. Meskipun Kafe atau restoran turki cukup banyak, namun doner sudah mulai membuatku bosan sedangkan harga makanan halal lainnya cukup mahal. Saya pun telah  menerapi diri bahwa ketergantunganku pada beras harus dihentikan agar doner bisa menarik seleraku lagi, namun sialnya bayangan kelezatan nasi kuning yang dijual di depan SMAN 2 Palu selalu menghantui dan meneror ketenanganku.

Pisang. Tiap sore saya selalu menyempatkan diri ke Rewe (supermarket khas Jerman) untuk membeli pisang, susu, dan strawberry. Susu dan strawberry biasanya saya campur lalu saya makan saat sarapan. Pisang saya bawa ke ruang belajar Goethe Institut atau kemanapun saya pergi sebagai bekal. Empat buah pisang selalu ada di ranselku. Satu atau dua  saya makan saat istirahat pertama lalu sisanya saya simpan jika ada acara jalan jalan yang mungkin akan membuat saya  susah menemukan makanan halal atau yang cocok dengan lidah Indonesiaku. Alhasil, Ivan telah membaca kebiasaan ini karena melihat terlalu seringnya saya makan pisang.
“Die Banane” begitu dia mengejekku, bahkan panggilan ini telah menyebar dan hampir seluruh teman teman yang mengenal saya memanggilku dengan sebutan itu.

Pisang di Indonesia telah berbeda, bukan hanya bentuknya tetapi juga karena tak ada lagi seremonial yang mengiringi prosesi makan pisang itu.

Sampai ketemu lagi, kawan.

image.

Gambar diambil dari Google.